alexametrics

‘Orang Kepercayaan’ Arsitek Masjid Istiqlal Ini Akhirnya Punya Rumah

loading...
‘Orang Kepercayaan’ Arsitek Masjid Istiqlal Ini Akhirnya Punya Rumah
Mbah Parno saat menerima bantuan rumah yang diserahkan langsung oleh Menag, Lukman Hakim Saifuddin di Gedung Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (4/1/2018). Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama (Kemenag) tahun ini terasa sangat istimewa bagi Suparno (90) yang biasa dipanggil Mbah Parno.

Kakek yang hingga kini masih aktif berkhidmah di Masjid Istiqlal ini mendapat berkah berupa sebuah rumah.

Mbah Parno adalah salah satu saksi hidup sejarah pendirian masjid terbesar di Asia Tenggara, yakni Masjid Istiqlal di Jakarta.



Bantuan rumah diberikan oleh Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Ngobras atau Ngobrol Santai bareng Menteri Agama. Acara yang merupakan rangkaian peringatan HAB ke-73 ini berlangsung di Gedung Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (4/1/2018).

“Semoga membawa berkah dan manfaat. Ini ada bantuan dari ASN Kementerian Agama,” kata Menag sembari menyerahkan secara simbolik plakat bertuliskan Bantuan Rumah untuk Mbah Suparno, Pelayan Friedrich Silaban (Arsitek Masjid Istiqlal).

Merujuk laman Kemenag, keseharian dari Mbah Parno beraktivitas di Masjid Istiqlal. Tak jarang, dia mengajak orang-orang untuk merapatkan barisan salat berjamaah.

Mbah Parno lahir di Desa Kalimati Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah pada 1928. Tahun 1951, dia merantau ke Ibu Kota sebagai kuli bangunan.

Pada 24 Agustus 1952, bertepatan dengan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Presiden Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Istiqlal. Mandor yang diikuti Mbah Parno ikut dalam pembangunan masjid tersebut. Di sinilah, Suparno yang kala itu berusia 24, bertemu dengan Arsitek Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, seorang Batak yang beragama Kristen (Protestan).

Kala itu pekerjaan Suparno adalah kuli bangunan, sembari juga mencari tenaga-tenaga untuk pembangunan masjid. “Waktu itu, masih sepi. Saya jalan kaki muter-muter mencari orang untuk kerja proyek di masjid ini. Para tukang becak saya tawari. Saat itu, kita dibayar Rp15 sehari,” cerita Mbah Parno saat ditemui di Ruang Unit Fasilitas Ibadah, sebelah barat laut ruang utama Masjid.

Mbah Parno menceritakan, Masjid Istiqlal berdiri di atas tanah seluas sembilan hektare. Lima hektare di antaranya untuk masjid, sisanya dibuat taman, dan lainnya.

“Waktu itu Pak Soekarno memerintahkan Pak Silaban yang juga dosen UI di Salemba bagian arsitek, untuk membuat tiga gambar. Masjid ini, Monas dan Stadion Utama Senayan. Nah, begitu Pak Silaban diturunkan di sini, saya yang disuruh melayani. Ya cetak gambar, makannya apa, minumnya apa, itu semua saya yang ngurusi,” kenang Mbah Parno

Mbah Parno meyakinkan, awalnya, dirinya memang bekerja sebagai kuli bangunan. Sikapnya yang cekatan menyita perhatian Silaban, karena setiap disuruh, Suparno tidak pernah mengecewakan.

“Pak Silaban suka dengan kerja saya. Karena setiap disuruh, saya langsung berangkat dan setiap ditanya, selalu saya katakan, sudah saya laksanakan dan beres Pak,” tuturnya.

Pelan namun pasti, Suparno beralih profesi, dari kuli bangunan lalu bertugas membuatkan teh, kopi, dan menyiapkan makanan Silaban yang menggemari ikan mentah. Selama bekerja membangun Masjid Istiqlal, Silaban “hanya” mau dilayani oleh Suparno dalam hal teknis seperti mengantar surat, mengecek barang, serta membuatkan kopi, minuman, dan makanan. Disebutkan Mbah Parno, belum pernah sekalipun Silaban marah padanya.

Setelah masjid berdiri dan siap digunakan, Suparno diangkat menjadi pegawai Istiqlal. Tugas utamanya adalah mengantar surat. Uniknya, lelaki yang memiliki lima anak ini selalu jalan kaki dalam mengantar surat, terutama saat mengantar ke alamat yang dekat dengan Istiqlal, misalnya: Kemenkeu, Istana, Kemendagri, Kemenag, dan lainnya.

Hingga kini, kakek dua cucu ini, setiap berangkat ke Istiqlal, juga masih suka jalan kaki. Jarak antara kontrakan Mbah Parno yang berada di Jalan Garuda Gang Mangga Kemayoran dengan Masjid Istiqlal lebih kurang dua kilometer, tidak menghalanginya untuk selalu jalan kaki.

Pada 2005, Mbah Parno dipindahtugaskan dari mengantar surat, menjadi penjaga sepatu/sandal jamaah. Sejak Mei 2016, Mbah Parno dipercaya masuk Bidang Takmir Bagian Tim Fasilitas Ibadah. Tugasnya adalah ngopyak-ngopyak atau menyuruh para jamaah untuk merapatkan dan meluruskan shaf (barisan) saat salat jamaah Dzuhur dan Ashar.

Selepas Ashar, Mbah Parno kembali ke kontrakan. Pekerjaan yang seperti itu dilakukan tiap Senin hingga Jumat.

Sudah puluhan tahun di Jakarta, Mbah Parno belum memiliki rumah. Lulusan kelas 3 SR ini menyewa tanah berukuran 8 x 3,5 meter dengan biaya Rp3 juta/tahun. Sedang untuk bangunannya, dia mendirikan sendiri.

Rumah tersebut dihuni Mbah Parno beserta istri dan kelima putranya. Sejak ditinggal istri tercinta pada 2007 lalu, Mbah Parno tinggal beserta 4 anak dan 2 cucunya. Satu putrinya telah menikah dan mengontrak sendiri.

Bekerja di Masjid Istiqlal, Mbah Parno digaji Rp 3,4 juta/bulan. Mbah Parno diberi keleluasaan tanpa batas untuk mengabdikan dirinya di Masjid.

“Pokoknya, selama saya masih kuat, saya diperbolehkan bekerja di sini. Jika sudah tidak kuat, saya baru akan berhenti. Kerja di sini saya ikhlas, karena bisa salat berjamaah. Saya hanya mengharap ridha Allah SWT,” ucap Mbah Parno bersemangat.

Mbah Parno tentu berharap punya rumah sendiri. Namun, itu tidak mengurangi rasa syukur nya atas nikmat hidup yang sudah dia dapat. Apalagi, anak-anaknya juga bisa melanjutkan sekolah hingga SMEA dan STM.

“Allah itu Maha Adil. Yang penting bisa salat berjamaah, bisa main sama cucu, makan seadanya, yang penting sabar, jangan emosi, apa adanya saja. Jadi kerja dibuat happy saja mas, alhamdulillah bisa mengabdi di Istiqlal,” ujarnya.

Dia mengaku beberapa temannya mendorong untuk mengajukan bantuan agar bisa mendapat rumah karena sudah puluhan tahun mengabdi, tapi itu ditampiknya. “Saya ini orangnya enggak aneh-aneh, Mas. Tapi kalau disuruh minta, jangan. Dilarang sama orang tua saya dulu untuk minta-minta,” kata Mbah Parno.

“Semua tergantung pemimpin. Dikasih alhamdulillah, enggak dikasih juga alhamdulillah. Ada yang mengerti alhamdulillah, enggak ada yang mengerti juga alhamdulillah. Yang penting, sehari-hari, hingga saat ini, saya bisa datang kemari dan bisa salat berjamaah,” lanjutnya.

Doa dan harapan Mbah Parno terjawab. Hari ini, bersamaan dengan peringatan Hari Amal Bhakti ke-73 Kementerian Agama, Mbah Parno mendapat berkah.

Mewakili keluarga besar Kementerian Agama, Menag Lukman Hakim Saifuddin memberikan bantuan rumah untuk Mbah Suparno.

Rumah itu berlokasi di Panorama Kemang, Desa Tegal, Parung. Selamat untuk Mbah Parno. Dedikasi Bapak adalah teladan nyata buat ASN Kementerian Agama.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak