alexametrics

Ludruk, Kesenian Tradisional yang Terus Eksis Walau Terjepit

loading...
Ludruk, Kesenian Tradisional yang Terus Eksis Walau Terjepit
Ludruk, Kesenian Tradisional yang Terus Eksis Walau Terjepit
A+ A-
Mukidi terbangun dari tidurnya. Perlahan ia menyalakan sebatang dupa yang ditancapkan pada sesajen di altar kecil. Menghadap kepulan asap wangi dupa, Mukidi memanjatkan doa-doa, menatap kaca, dan mengukir wajahnya dengan makeup sederhana. Dengan takzim, perlahan Mukidi mengenakan kostum kebesaran Tandak Wesi, mengubah penampilannya menjadi perempuan cantik.

Tak biasanya, ritual pemain ludruk menjelma menjadi Tandak Wesi yang kerap dilakukan di belakang layar kali ini dipertontonkan langsung di atas panggung. Berdurasi 45 menit, pentas Ludruk Monolog bertajuk "Ritus Travesty" Tandak Cross Gender itu benar-benar menjadi panggung sang tokoh.

Peristiwa demi peristiwa yang lahir lewat monolog diiringi gending dan ritual sang tokoh mampu menyihir penonton yang bergeming menatap panggung Tobong Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya-tempat berlangsungnya pementasan.



"Iki duwekmu, Tilas tlacake leluhurmu. Lek kon gak gelem, Ya kabur kanginan (Ini milikmu, sejarah leluhurmu. Kalau kamu tak menyukainya, ya hilang)", petikan monolog yang dilontarkan Mukidi seraya menunjukkan tanda kebesaran Tandak Wesi yang terbungkus kain, mengakhiri pentas Jumat (28/12) siang itu.

Mukidi merupakan seorang lelaki tulen, beristri satu, beranak tiga yang sehari-hari menjalani kehidupan sebagai Wedo'anLudruk atau Tandak Wesi. Kisah Mukidi dalam pentas ini diperankan Meimura, yang kerap menjadi sutradara Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya. Selama pementasan, Meimura sukses menggambarkan dengan lugas bagaimana Mukidi menjalani proses dari laki-laki dan berubah cantik saat di panggung.

"Ini adalah pentas persembahan kami untuk menutup serangkaian program kegiatan Perkumpulan Kesenian Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya selama 2018," kata Meimura seusai pementasan.

Meimura menegaskan, ludruk adalah kesenian pemeranan murni dan tidak ada transgender. Ritual sebelum pentas sendiri merupakan upaya setiap aktor untuk berkomunikasi dengan sang pencipta sebelum berhubungan yang lainnya. "Ritual dilakukan supaya setelah pentas tidak keterusan menjadi perempuan," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Asisten Sutradara Arie Setiawan juga menyatakan bahwa ada kekhasan dalam ludruk, yaitu cross gender. "Bagaimana aktor laki-laki bisa menjadi perempuan di panggung, tapi mereka tidak mengubah identitasnya," ucapnya. Selain cross gender, budaya travesty,atau parodi juga menjadi daya tarik tersendiri dalam ludruk.

Tak Lekang Dimakan Zaman
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak