alexametrics

Laporan Langsung SINDOnews dari Arab saudi

RI Diharapkan Bergabung dalam Koalisi Kontra Terorisme Negara Islam

loading...
RI Diharapkan Bergabung dalam Koalisi Kontra Terorisme Negara Islam
Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin berjabat tangan dengan Komandan IMCTC, Jenderal Raheel Sharif di Markas IMCTC Riyadh, Selasa (18/12/2018). IMCTC berharap Indonesia bergabung dalam koalisi kontra terorisme negara Islam. Foto/SINDOnews/Pung Purwanto
A+ A-
RIYADH - Koalisi Militer Islam untuk Pemberantasam Terorisme (Islamic Military Counter Terrorism Coalition/IMCTC) membuka peluang besar bagi keterlibatan Indonesia dalam penanggulangan terorisme. Terorisme telah menjadi masalah serius di dunia Islam.

"Ancaman terorisme telah melewati batas negera dan Islam selama ini selalu menjadi korban aksi terorisme dan ekstrimisme. Karena itu penting bagi dunia Islam untuk berkoalisi memberantas kejahatan luar biasa ini," kata Komandan IMCTC, Jenderal Raheel Sharif di Markas IMCTC Riyadh saat berdialog dengan delegasi Indonesia yang berkesempatan berkunjung ke Riyadh atas undangan Kementerian Media Arab Saudi, Selasa (18/12/2018).

Kementerian Media Arab Saudi mengundang secara khusus sejumlah tokoh Indonesia untuk menyaksikan pameran budaya terbesar Al Janadriyah yang digelar Kamis (20/12/2018) besok. Tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan festival Al Janadriyah. Rombongan Indonesia dipimpin Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin yang terdiri dari para ulama, akademisi, budayawan, serta jurnalis senior.



Jenderal Raheel menegaskan keterlibatan Indonesia akan memperkuat koalisi yang diinisiasi Arab Saudi ini. Apalagi Indonesia memiliki pengalaman yang luas dalam penanggulangan dan pemberatasan aksi terorisme maupun radikalisme.

Sejak didirikan setahun lalu, IMCTC telah beranggotakan 41 negara muslim di kawasan Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan dan Tenggara. Mereka di antaranya Arab Saudi, Mesir, Kuwait, Qatar, Pakistan, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Turki termasuk negara yang masuk IMCTC.

Menurut Raheel, negara Islam perlu berkoalisi melawan terorisme karena organisasi teroris mencemarkan nilai-nilai Islam. Stigma bahwa Islam dekat dengan terorisme, harus diluruskan dengan aksi nyata bahwa nilai-nilai Islam yang moderat, damai, toleran, dan senantiasa ingin hidup berdampingan secara damai dengan siapa pun.

Sementara itu, Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, Indonesia memiliki pemahaman yang sama dengan IMCTC. Bahwa terorisme merupakan masalah besar bagi dunia Islam. "Semangatnya sama, yakni bagaimana dunia bersama-sama memerangi terorisme," kata Mantan Wakil Menteri Pertahanan itu.

Namun, kata Sjafrie, Indonesia sulit untuk bergabung dalam sebuah aliansi militer. Hal ini karena dalam UUD 1945 ditegaskan kebijaksanaan luar negeri Indonesia adalah non-blok.

Sjafrie mengatakan, Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak menyetujui Indonesia bergabung dalam aliansi itu. Namun demikian, Indonesia akan mencari bentuk kerja sama lain dalam penanggulangan terorisme.

Indonesia sejauh ini menjadi salah satu negara yang paling berhasil dalam penanganan terorisme. Sejauh ini setidaknya sudah lebih dari 2.000 teroris ditangkap Densus 88. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia telah menjalin kerja sama penanggulangan terorisme bersama Filipina dan Malaysia. Utamanya dengan menggalang patroli bersama di sejumlah kawasan.

Dalam kunjungan itu, delegasi Indonesia diajak berkeliling markas IMCTC yang masih proses penyempurnaan dan rencana akan diresmikan 2019. Masing masing negara anggota koalisi akan menempatkan 4 orang delegasi untuk menjalankan program program utama IMCTC. Sejauh ini negara negara Islam menyambut baik keberadaan koalisi ini sebagai pendekatan baru dalam pemberantasan terorisme.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak