alexametrics

Mengejar Data WNI di Luar Negeri

loading...
Mengejar Data WNI di Luar Negeri
Mengejar Data WNI di Luar Negeri. (Koran SINDO. Dita Angga).
A+ A-
KAOHSIUNG - Minggu pagi, 16 Desember 2018, di Kota Kaohsiung, Taiwan, petugas dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KADEI) Taipei mulai menata alat pencatatan kependudukan.

Laptop, kamera, alat rekam iris mata dan sidik jari berjejer dalam satu meja. Alat-alat ini memang dipersiapkan untuk menyambut para warga negara Indonesia (WNI) yang merantau di kota kedua terbesar di Taiwan tersebut. Seperti diketahui, Kemendagri dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) saat ini tengah gencar mengejar data WNI di berbagai negara.

Tak butuh waktu lama, puluhan WNI pun memenuhi venue yang ada di Internasional Convention Center Kaohsiung (ICCK). Para WNI datang dengan bermacam-macam masalah administrasi kependudukan. Ada yang belum pernah merekam hingga tidak masuk dalam database kependudukan. Kebanyakan dari mereka adalah WNI yang sudah belasan tahun tinggal di Kaohsiung dan tidak sempat melakukan pemutakhiran data.



Salah satunya Yayah Rostiyah. Ibu dua anak ini saat melakukan pengecekan ternyata tidak masuk dalam database kependudukan. Dengan wajah agak sedikit bingung dia pun mempertanyakan statusnya. “Benar Pak ini nomornya. Saya enggak pernah berubah-berubah, Pak,” ucap Yayah sambil memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP) terbitan 2008.

Setelah dipastikan Yayah tidak masuk dalam database kependudukan, petugas pun mengarahkan untuk pendataan dengan diberikan nomor induk tunggal (NIT).

NIT diberikan kepada WNI di luar negeri yang tidak memiliki nomor induk kependudukan (NIK). Saat itu juga Yayah melakukan perekaman KTP elektronik (e-KTP). “Jadi ini (e-KTP) nanti tinggal cetak saat pulang. Enggak sekarang. Cuma rekam saja. Tapi katanya sudah masuk data,” ungkapnya.

Ada juga beberapa WNI yang telah memiliki NIK, tapi mereka belum melakukan perekaman. Salah satunya Binti Sarofah yang datang bersama anak laki-lakinya. Binti mengaku belum memiliki KTP elektronik (e-KTP) karena jarang pulang ke Indonesia. “Iya. Saya kan menikah sama orang Taiwan. Alhamdulillah ada (program) ini. Apalagi kabarnya kalau urus di Bilitar itu antrean bisa dari subuh,” ungkapnya.

WNI asal Blitar lainnya, Fatmawati, mengaku sengaja mendatangi lokasi karena ingin melakukan perekaman. Dia sebenarnya memang berencana pulang ke Blitar, Jawa Timur, pada Senin 17 Desember 2018. Salah satu agenda kepulangannya adalah mengurus e-KTP. “Saya sudah susun jadwal sampai di Blitar mau ngapain saja. Di Blitar antreannya panjang, jadi rencana saya Selasa (17 Desember 2018) akan ke kantor Dukcapil dari subuh. Tapi kalau begini kan besok saat pulang tinggal mencetak, lebih enak,” katanya dengan raut muka sumringah.

Harapannya jadi kenyataan, pada Selasa siang Fatmawati pun mengabarkan tengah mengantre di Dukcapil Kabupaten Blitar untuk mencetak e-KTP. Setelah mengantre dia mengaku sudah mendapatkan fisik e-KTP.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak