alexametrics

Kompetensi Softskill ASN Belum Maksimal

loading...
Kompetensi Softskill ASN Belum Maksimal
Kompetensi Softskill ASN Belum Maksimal. (Dok. SINDOphoto).
A+ A-
JAKARTA - Hasil talent pool 2018 yang dilakukan Badan Kepegawaian Negara (BKN) menunjukan kompetensi aparatur sipil negara (ASN) dalam aspek softskill belum maksimal.

Hal ini terlihat dari persentase potensi ASN yang mampu menduduki jabatan lebih tinggi masih sangat rendah. Talent pool merupakan pemetaaan hasil penilaian potensi dan kompetensi. Pada talent pool kali ini BKN menyasar 1.262 pejabat pimpinan tinggi (JPT) pratama dan pejabat administrator dari 110 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

“Dari aspek intelektualnya mungkin mengalami peningkatan, tapi belum maksimal pada aspek softskill-nya,” kata Kepala BKN, Bima Haria Wibisana.



Kepala Pusat Penilaian Kompetensi ASN BKN Purwanto menjelaskan, tahun ini BKN telah melakukan talent pool sebanyak dua kali. Kegiatan diikuti 2.194 ASN yang terdiri 374 JPT pratama dan 1.820 administrator telah dilakukan penilaian.

“Pada talent pool yang kedua ini melibatkan 1.262 PNS dari 110 instansi pusat dan daerah. Terdiri dari 214 JPT pratama dan 1.048 pejabat administrator di 14 instansi pusat, 10 pemerintah provinsi, 22 pemerintah kota, dan 64 pemerintah kabupaten,” ungkapnya.

Purwanto mengatakan menyebutkan bahwa capaian pada aspek softskill belum menyentuh angka yang maksimal. Hal ini nampak dari hasil pemetaan yakni hanya 5% ASN mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi.

“Terhitung hanya 3,74% dari total 2.194 yang telah mengikuti penilaian memiliki kompetensi dan potensi yang tinggi. Ini yang berpotensial untuk disiapkan sebagai pemimpin masa mendatang,” ungkapnya.

Kepala Biro Humas BKN Mohammad Ridwan mengaku memang tidak banyak ASN yang dinilai mampu untuk menduduki jabatan lebih tinggi. Dia memperkirakan hanya beberapa persen saja ASN yang memiliki nilai maksimal.

“Kita kan ada sembilan level hasil penilian talent pool. Untuk yang paling siap dipromosikan itu kuadran itu di level 9,8, 7. Lalu di level 6, 5,4 itu bisa tapi harus ada diklat, mentoring, coaching dan yang lain. Selanjutnya yang 1,2, 3 itu tidak bisa diapa-apakan, kasarnya nunggu pensiun. Itu wajah birokrasi kita secara nasional,” paparnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak