alexametrics

Tempat Publik Menggantungkan Harapan, Pers Tak Boleh Antikritik

loading...
Tempat Publik Menggantungkan Harapan, Pers Tak Boleh Antikritik
Insan pers di Indonesia harus menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi. Tugas pers adalah melakukan pengembangan atau meningkatkan kompetensi supaya tidak seperti yang dituduhkan. Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Insan pers di Indonesia harus menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi. Tugas pers adalah melakukan pengembangan atau meningkatkan kompetensi supaya tidak seperti yang dituduhkan.

“Pers Indonesia, dalam hal ini IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), tidak boleh cengeng atau marah dengan kritik,” kata Ketua Umum IJTI, Yadi Hendriana dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Kamis (6/12/2018).

Yadi mengatakan, pers harus tetap memiliki sikap fairness, berintegritas, dan terus menjunjung tunggi kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, pers hanya punya satu orientasi yaitu kepentingan publik.

“Diakui atau tidak kita memang masih banyak lemahnya. Semua anggota IJTI harus terus mengembangkan diri untuk menyongsong masa depan. Juga membuktikan bahwa kita bisa berkarya untuk kebaikan masyarakat luas, bukan kepentingan sesaat atau satu kelompok,” lanjutnya.

Lebih lanjut Yadi mencontohkan kasus di Amerika Serikat (AS). Saat Pilpres AS yang lalu, Donald Trump melemparkan kritik keras (banyak yang mengatakan menghina) terhadap pers AS.

Terhadap kritik tersebut, pers negara Paman Sam tidak marah. Mereka sadar betul profesi jurnalis itu tempatnya orang-orang profesional bekerja. Tempatnya public menggantungkan harapan. “Media-media terkenal seperti CNN, Fox, Washington Post, dan lain-lain menyadari betul waktu itu bahwa pers di AS sempat terlampar situasi yang cukup buruk,” jelasnya.

Indeks kebebasan pers mereka turun ke peringkat 41. Hal itu dampak dari Gedung putih sebelum era Trump yang sempat “menutup diri” terhadap pers karena dianggap banyak mengecam kebijakan ekonomi Obama. Kondisi lain juga tak jauh beda dengan negara-negara maju lainnya. Pers selalu menjadi lemparan kritik.

Namun, ujar Yadi, kritik itu menjadi cambuk dan obat untuk autoktritik. Pers merupakan profesi yang setiap hari butuh pengembangan diri. Pers itu seperti perahu dan insan pers penumpangnya. Jika rusak atau bocor maka insan pers akan tenggelam bersama. “Apalagi praktik-praktik tidak profesional banyak dilakukan sebagian pers,” lanjutnya.

Dengan demikian, terkait kritik, pers harus bangkit dan memperbaiki diri. “IJTI, organisasi tempat berkumpulnya orang-orang profesional bertugas mengembangkan kemampuan anggotanya,” tuturnya.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak