alexametrics

Ketahanan Pangan: Bedanya Jepang dan Indonesia

loading...
Ketahanan Pangan: Bedanya Jepang dan Indonesia
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB, Ali Khomsan. Foto/KORAN SINDOAN
A+ A-
ALI KHOMSANGuru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB 







PEMERINTAH menyatakan data beras terbaru yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) telah menggunakan penyempurnaan metode perhitungan. Data BPS tersebut menyatakan bahwa produksi gabah kering giling pada 2018 diperkirakan 56,54 juta ton atau di bawah Kementan yang menyatakan 80 juta ton. Sementara itu, produksi beras versi BPS adalah 32,42 juta ton dan versi Kementan  46,5 juta ton. Kementan memperkirakan surplus mencapai 13,03 juta ton, namun BPS memperkirakan surplus hanya 2,85 juta ton. 

 

Tingkat kebenaran data produksi pangan sangatlah penting karena menyangkut ketersediaan pangan, ketahanan pangan, dan impor pangan. Oleh sebab itu, keberanian pemerintah untuk mengoreksi data pangan patut diapresiasi. Gonjang-ganjing tentang perlu tidaknya impor beras bisa diredam, dan sinergi positif antarlembaga yang mengurusi soal pangan dapat semakin diperbaiki.

 

Bagaimana sebenarnya kita harus menyikapi impor pangan? Setiap negara tentu mempunyai kebijakan yang berbeda menyangkut urusan impor pangan. Ada negara yang memiliki keterbatasan sumber daya alam seperti Jepang, sehingga impor pangan mau tidak mau harus dilakukan. Sementara itu, Indonesia adalah negara agraris dan sekaligus negara bahari dengan potensi pertanian yang luar biasa.

 

Jepang adalah negara dengan penduduk lebih dari 100 juta orang. Kesembadaan pangannya hanya sekitar 40% berdasarkan basis kalori, dan untuk biji-bijian sekitar 28%. Kesembadaan biji-bijian ini jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia (85%), India (91%), dan Bangladesh (97%).

 

Sebagai negara yang banyak mengandalkan impor pangan dari negara lain, Jepang telah membangun sistem manajemen ketahanan pangan dengan sangat baik. Monitoring suplai dan permintaan pangan dilakukan dengan mengandalkan data impor-ekspor dari Departemen Keuangan, data produksi-distribusi dari Bagian Statistik Departemen Pertanian, dan data konsumsi dari departemen lainnya. Mengingat Jepang juga sangat berkepentingan dengan impor pangan dari negara-negara lain, maka data-data yang relevan dari USDA (Departemen Pertanian AS) dan FAO juga dijadikan dasar untuk melihat suplai-permintaan pangan dunia. Dengan mengandalkan semua informasi tersebut, dibangunlah sistem dan kebijakan yang efektif untuk ketahanan pangan.

 

Sebagai negara yang semakin makmur, Jepang mengalami perubahan pola pangan yang menggeser pangan-pangan sumber kalori. Semula beras memberikan kontribusi 1090 Kalori, namun kini kontribusi beras hanya 600 Kalori. Turunnya kontribusi kalori beras, digantikan oleh pangan-pangan lain seperti produk-produk ternak, minyak/lemak, terigu, gula, ikan dll. Ini menunjukkan bahwa peran beras sebagai pangan pokok sebenarnya tidak tergantikan tetapi orang Jepang makan beras semakin sedikit, dan pangan lainnya dikonsumsi lebih banyak sehingga kecukupan kalori secara keseluruhan tetap terpenuhi.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak