alexametrics

Jelang Pilpres 2019

Kepala BSSN Ungkap Ada 143,6 Juta Serangan Siber ke Indonesia

loading...
Kepala BSSN Ungkap Ada 143,6 Juta Serangan Siber ke Indonesia
Kepala BSSN Djoko Setiadi. (Foto/Hasan Kurniawan/Koran SINDO/Dok)
A+ A-
TANGERANG - Serangan siber ke Indonesia, dari dalam dan luar negeri, mengalami peningkatan pesat menjelang pelaksanaan Pemilihan Legislatif dan Presiden 2019.

Selama periode Januari hingga Juni 2018, sedikitnya ada 143,6 juta serangan siber dari luar yang masuk ke Indonesia. Sedang dari dalam negeri sendiri, ada sekira 1,335 serangan siber yang telah dilaporkan.

Serangan siber dari dalam negeri itu, meski tergolong kecil jika dibandingkan jumlah pemakai internet yang mencapai 140 juta di Indonesia, namun cukup meresahkan.



Kepala BSSN Djoko Setiadi mengatakan, pihaknya dengan HoneyNet Project, pakar IT, serta jaringan universitas, tengah membangun pusat riset dan data base malicious software (malware) di Indonesia.

Pusat riset dan data base ini, nantinya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, dan menyediakan informasi terkait ancaman siber (cyber threats) yang meresahkan itu.

"BSSN selalu bekerjasama dengan semua komunitas yang tujuan utamanya untuk pengamanan nasional. Kita akan siapkan keamanan terbaik," kata Djoko, di Swiss German University, Alam Sutera, tadi pagi.

Dijelaskan dia, pengamanan nasional dari serangam siber ini sangat penting, karena dalam waktu dekat bangsa Indonesia akan menggelar pesta demokrasi 5 tahunan.

"Dalam tempo dekat, akan ada Pilpres dan kita sangat siap. Sekali lagi, kita tidak bisa bekerja sendiri. Untuk jenis ancamannya apa, itu sangat teknis. Yang pasti, ancaman sudah banyak berdatangan," ungkapnya.

Direktur Deteksi Ancaman BSSN Sulistyo menambahkan, serangan siber atau malware itu sangat berbahaya, karena bisa digunakan untuk melakukan aksi spionase.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak