alexametrics

Kasus Baiq Nuril

Presiden Jokowi Harus Bersimpati pada Perempuan Pencari Keadilan

loading...
Presiden Jokowi Harus Bersimpati pada Perempuan Pencari Keadilan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta menunjukkan simpati dan empatinya kepada sosok perempuan pencarian keadilan, Baiq Nuril. Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta menunjukkan simpati dan empatinya kepada sosok perempuan pencarian keadilan, Baiq Nuril. Baiq Nuril adalah mantan tenaga honorer SMAN 7 Mataram yang dikriminalisasi akibat merekam percakapan mantan atasannya yang berisi pelecehan.

"Dalam hal ini harus ada simpati dan empati dari Pak Jokowi untuk tidak ada kesewenang-wenangan oleh penegak hukum," kata Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro kepada Sindonews, Selasa (20/11/2018).

Siti mengatakan, Baiq Nuril adalah sosok perempuan yang tidak mendapatkan keadilan dari lembaga peradilan. Karena tak dapat keadilan, dukungan pun mengalir deras kepadanya.

Salah satu dukungan untuk Nuril muncul dalam bentuk penggalangan petisi dukungan meminta presiden untuk memberikan ampunan bagi perempuan asal Mataram tersebut. Petisi digalang melalui situs change.org dan telah ditandatangani oleh 80.000 orang.

Siti mengatakan, membanjirnya dukungan kepada Nuril adalah penegasan bahwa penegakan hukum dan keadilan harus diperjuangkan oleh warga negara termasuk kaum perempuan. Bila tak ada keadilan bagi Nuril, kaum perempuan akan bergerak.

Terlebih, kata Siti, ini tahun politik. Tentu kasus Nuril akan menjadi peringatan bagi calon petahana untuk memberikan simpati kepada korban.

"Kalau tidak ada keadilan bagi Baiq Nuril, perempuan akan bergerak. Apalagi ini musim Pemilu tentu akan menjadi warning bagi calon khususnya incumbent yang masih berkuasa harus menunjukkan simpati kepada perempuan pencari keadilan," kata Siti.
(wib)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak