alexametrics

Lulusan SMK-Industri Belum Selaras

loading...
Lulusan SMK-Industri Belum Selaras
Lulusan SMK-Industri Belum Selaras. (Istimewa).
A+ A-
JAKARTA - Output pendidikan vokasi dinilai belum selaras dengan kebutuhan industri. Masih banyak lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang notabene sebagai salah satu institusi pendidikan vokasi belum maksimal terserap di dunia industri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), SMK menyumbang paling banyak jumlah pengangguran terbuka. BPS menyebut pada Agustus 2018 tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebanyak 7 juta orang atau 5,34% dari total 131,01 juta orang angkatan kerja.

Dari 7 juta orang tersebut, 11,24% di antaranya merupakan lulusan SMK. “Saya bulan lalu mengikuti kongres di Singapura yang membicarakan future job . Ada hasil studi dari hampir 100 negara, Indonesia nomor tiga paling bawah dalam hal mix and match (antara lulusan dan dunia industri),” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton J Supit saat talkshow Polemik MNC Trijaya Network di Warung Daun, Jakarta, kemarin.



Dia mengatakan, ketidakselarasan antara lulusan SMK dan dunia industri harus dicarikan solusinya. Sampai saat ini Indonesia tidak mempunyai grand design pendidikan vokasi. “Kita tidak punya grand design .

Di Jerman ada lembaga yang khusus mengkaji hal ini. Kita harus meluruskan kembali apa itu vokasi. Termasuk juga bagaimana institusinya,” paparnya. Anton menambahkan, seharusnya antara dunia industri dan institusi vokasi harus lebih sering berkomunikasi sehingga dapat diketahui profesi apa saja yang sedang tren di dunia industri.

Dengan begitu, dunia pendidikan dapat menyesuaikan kompetensi apa saja yang harus dimiliki peserta didiknya. “Mindset soal vokasi ini harus berubah. Vokasi ini bukan hanya agar rakyat Indonesia mendapat pekerjaan untuk survive, akan tetapi yang lebih penting adalah memberikan sumbangsih pada penguatan ekonomi,” tuturnya.

Dia meminta agar vokasi harus diseriusi karena tantangan ke depan semakin kompleks. Satu di antaranya dalam waktu 15-20 tahun mendatang ada pekerjaan-pekerjaan yang digantikan oleh robot.

“Artinya tantangan digitalisasi yang tidak bisa bendung harus kita hadapi,” ungkapnya. Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Didi Suprijadi mengatakan, ada banyak variabel yang memuat lulusan SMK tidak terserap maksimal di dunia kerja.

Mulai dari persoalan kurikulum, manajemen, guru, sampai sarana dan prasarananya. “Ini variabelnya banyak. Dilihat variabelnya bagaimana, gurunya bagaimana, sarana sarannya bagaimana. Ini berpengaruh pada kualitas lulusan,” tuturnya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak