alexametrics

Jokowi Sebut Hoaks Tentang Dirinya Makin Santer di Jawa Barat

loading...
Jokowi Sebut Hoaks Tentang Dirinya Makin Santer di Jawa Barat
Presiden Joko Widodo.Foto/SINDOphoto/Dok
A+ A-
BANDUNG - Calon Presiden (Capres) petahana Joko Widodo (Jokowi) memaparkan panjang lebar kabar bohong (hoaks) tentang dirinya yang belakangan makin santer bermunculan di Jawa Barat. Hal itu diungkapkan Jokowi di hadapan ribuan calon anggota legislatif (caleg) partai politik (parpol) koalisi pengusung Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) se-Jabar di Hotel Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Sabtu (10/11/2018).

"Akhir-akhir ini hoaks mulai tajam di Jabar, harus diberikan counter-counter yang baik," ungkap Jokowi. Jokowi menuturkan, berbagai hoaks tersebut di antaranya soal antek asing yang dialamatkan kepadanya.

Padahal, kata Jokowi, pihaknya selama ini telah berupaya keras mengakuisisi sejumlah sumber kekayaan negara, seperti sumur minyak di Blok Mahakam dan di Blok Rokan hingga penambangan emas yang selama ini dikelola PT Freeport.

"Puluhan tahun Blok Mahakam dikuasai Prancis dan Jepang. Sejak 2016 sudah diserahkan ke Pertamina. Tahun ini, Blok Rokan yang dikelola Amerika, sekarang 100% dipegang Pertamina. Terakhir, Freeport yang sebelumnya kita hanya dapat (pembagian keuntungan) 9%, tahun ini sudah diberikan 51%. Insya Allah bulan ini akan rampung betul-betul 51 persen," papar Jokowi.

"Jadi pertanyaannya, antek asingnya di mana? Dipikir mudah dapat 51% (keuntungan Freeport) itu. Dipikir enggak ditekan kiri, kanan, atas, bawah, ditekan. Itu sulit, bukan hal yang mudah," sambung Jokowi disambut riuh tepuk tangan.

Hoaks selanjutnya, kata Jokowi, adalah Jokowi antek aseng. Hoaks tersebut berkaitan dengan isu banyaknya tenaga kerja asing (TKA) asal China di Indonesia."Ini mulai ramai di Bekasi, Bogor, Sukabumi, Cianjur juga. Mulai dipanas-panasi, sambil digoreng-goreng," ungkapnya.

Menurut Jokowi, kabar yang menyebutkan sekitar 10 juta TKA asal China masuk ke Indonesia tidak berdasar. Jokowi menegaskan, pernah membuat kesepakatan dengan Presiden China terkait kunjungan wisatawan asal China dimana dirinya meminta 10 juta wisatawan asal China berkunjung ke Indonesia.

"Itu yang dipelesetkan, padahal TKA di Indonesia hanya sekitar 80.000 dimana 24.000 di antaranya adalah China. Padahal, tenaga kerja Indonesia (TKI) di China 80.000, Hongkong 160.000, dan Tiongkok 200.000-an. Artinya, mereka itu antek Indonesia, jangan dibalik-balik," tukas Jokowi.

"Di Uni Emirat Arab, jumlah TKA-nya 80%, Arab Saudi 33%, Brunei Darussalam 32%, Singapura 24%, Malaysia 5%. Indonesia, hanya 0,03 persen. Terus antek asengnya di mana?" ujar Jokowi menyindir.

Hoaks lainnya, lanjut Jokowi, soal dirinya yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang juga mulai santer bermunculan di Jabar. Jokowi menegaskan, dirinya bukan anggota PKI. Terlebih, Jokowi mengaku baru berumur 4 tahun saat PKI dibubarkan 1965 silam.

Bahkan, dia meyakinkan, keluarga besarnya tidak pernah terlibat ke dalam organisasi terlarang itu. "Saya enggak pernah jawab, diam saja. Tapi lama-lama, ya itu yang saya bilang politikus sontoloyo, ya seperti itu. Diam dianggapnya saya takut, enggak ada itu, saya enggak takut," ujarnya.

Terakhir, dirinya juga dituding melakukan kriminalisasi terhadap ulama. Dia mengaku heran dengan tudingan tersebut. Pasalnya, selama ini, dirinya memiliki kedekatan dengan para ulama di Indonesia.

"Saya tiap hari dengan ulama, setiap minggu masuk pesantren. Bahkan, sekarang cawapresnya paling atas dari para ulama, ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia). Ini (isu kriminalisasi ulama) masih saja diangkat-angkat, baru seminggu ini ramai lagi," sebutnya.

Oleh karenanya, Jokowi meminta bantuan seluruh caleg partai koalisi pengusung Jokowi-Ma'ruf memberikan penjelasan dan pemahaman kepada masyarakat untuk menangkal berbagai hoaks tersebut.

"Tolong bisa dijelaskan secara sederhana, agar masyarakat cepat menerima," katanya. Jokowi juga meminta agar para caleg terus menyosialisasikan keberhasilan program-program pembangunan yang diusungnya, seperti program Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), pembagian sertifikat tanah, hingga keberhasilan program dana desa untuk kesejahteraan masyarakat.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak