alexametrics

Wagub DKI (Masih) Kosong

loading...
Wagub DKI (Masih) Kosong
Posisi wakil gubernur (wagub) DKI Jakarta hingga saat ini masih kosong. Foto/Ilustrasi SINDOnews
A+ A-
Posisi wakil gubernur (wagub) DKI Jakarta hingga saat ini masih kosong. Siapa yang bakal menduduki kursi yang ditinggalkan Sandiaga Uno ini masih misteri. Kekosongan yang begitu lama tentu mengganggu jalannya pemerintahan. Karena itu semua stakeholder yang berwenang harus berupaya keras untuk secepatnya menunjuk siapa orang yang akan mendampingi Gubernur Anies Baswedan tersebut.

Sejauh ini memang masih dalam proses seleksi. Partai Gerindra sebagai "pemilik" kursi wagub sudah menyerahkan mandatnya kepada PKS. Kader-kader PKS juga sudah mengikuti fit and proper test untuk menguji kecakapannya. Yang diharapkan publik adalah jangan sampai proses yang dilakukan berjalan bertele-tele yang memakan waktu lebih lama lagi.

Proses pencarian sosok wagub harus dilakukan efektif dan efisien. Cepat saja juga tak bagus. Karena kalau terlalu cepat, dikhawatirkan mengabaikan kualitas sang calon. Terlalu lama juga akan menjadi masalah karena posisi wagub ini sudah terlalu lama kosong.

Pada intinya, fit and proper test ini harus dilakukan secara sungguh-sungguh, bukan formalitas semata. Hal ini penting agar masyarakat DKI bisa mendapatkan wagub yang benar-benar ahli dan kompeten dalam mendampingi Anies memajukan Ibu Kota ini. Pasangan ini masih memiliki waktu cukup panjang, 4 tahun, untuk membuktikan pengabdiannya kepada masyarakat Jakarta.

Ada sejumlah alasan mengapa posisi wagub DKI ini harus segera diisi. Pertama, DKI Jakarta merupakan ibu kota negara yang tentu memiliki permasalahan sangat kompleks daripada daerah lain di Indonesia. Karena itu kehadiran wagub sangat urgen untuk membantu tugas-tugas Gubernur Anies. Ada banyak sekali masalah yang harus segera diselesaikan. Mulai kemacetan, potensi banjir, urbanisasi, sampah hingga pembangunan infrastruktur dan masih banyak lagi. Tentu saja hal ini memerlukan kerja sama kedua pemimpinnya untuk bersinergi dalam memecahkan masalah-masalah di Ibu Kota ini.

Kedua, tahun depan kita sudah masuki tahun politik. Jakarta sebagai barometer politik Indonesia pasti memiliki dinamika yang lebih tinggi daripada daerah lain di Tanah air sehingga masalah keamanan dan stabilitas Kota Jakarta ini menjadi taruhannya. Kehadiran wagub sangat penting untuk ikut bahu-membahu bersama gubernur dalam menciptakan suasana Jakarta yang kondusif bagi jalannya pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang pertama kali diselenggarakan secara bersamaan di republik ini.

Yang jelas Anies sebagai gubernur membutuhkan partner untuk menyelesaikan permasalahan Jakarta, terutama bagaimana mewujudkan janji-janji kampanyenya. Bukan masalah mampu atau tidak Anies sendiri dalam menjalankan tugasnya membenahi Jakarta, tetapi kehadiran wagub untuk bersinergi tentu akan sangat membantu tugas sang gubernur.

Hanya saja yang perlu menjadi catatan penting adalah ketika sudah terpilih wagubnya, jangan sampai wagub hanya menjadi hiasan. Jangan sampai sosok wagub hanya menjadi ban serep. Gubernur harus mampu membagi peran dan tugasnya kepada wagub. Hal ini penting agar peran wagub bisa dimaksimalkan.

Terbentuknya gubernur dan wagub yang sinergi ini secara kinerja juga pasti akan lebih baik. Selain itu hubungan mereka di tingkat koalisi partai juga bisa terjaga. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di banyak daerah karena pembagian peran dan tugas tidak proporsional akhirnya berujung pada hubungan yang tidak harmonis antara kepala daerah dan wakilnya sehingga jalannya pemerintahan menjadi pincang. Yang menjadi korban pasti masyarakatnya.

Berkaca pada kasus tersebut, sudah bukan zamannya lagi peran wagub tidak dimaksimalkan. Gubernur harus berbagi peran dengan wakilnya. Perlakukanlah wakil sebagai bagian integral satu paket dengan gubernur. Karena kesuksesan gubernur juga keberhasilan wagub dan masyarakat Jakarta. Ketika tugas dan peran dibagi secara proporsional, hasilnya akan lebih maksimal dalam membangun Jakarta. Sebaliknya wagub juga harus tahu diri dengan tidak bertindak melebihi peran yang diberikan.

Satu hal lagi, meski diusung oleh partai, mereka dipilih langsung oleh rakyat sehingga sudah semestainya gubernur bekerja untuk rakyat DKI. Jangan sampai hanya menjadi alat partai untuk tujuan yang tidak baik. Pergunakan amanah yang diberikan rakyat dengan baik untuk menyejahterakan masyarakat Jakarta dengan seadil-adilnya. Dan mari kita berikan waktu dan kesempatan bagi gubernur untuk berkarya. Mengkritik wajib, tetapi yang konstruktif dan membangun untuk Jakarta yang maju dan lebih baik.
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak