alexametrics

Soal Kasus Ratna Sarumpaet, IMM: Jangan Ada Akrobat Politik

loading...
Soal Kasus Ratna Sarumpaet, IMM: Jangan Ada Akrobat Politik
Ratna Sarumpaet (tengah) tiba di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan di Jakarta, Kamis 4 Oktober 2018. Pelaku penyebaran hoaks itu ditangkap oleh kepolisian di Bandara Soekarno Hatta. Foto/ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
A+ A-
JAKARTA - DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mendesak Polri untuk mengusut tuntas kasus penyebaran kabar bohong atau hoaks aktvisi sosial Ratna Sarumpaet.

Alasan IMM, perbuatan Ratna merupakan kejahatan yang bisa berakibat fatal bagi kerukunan dan stabilitas politik di negara.



"Kami menuntut kepada Kapolri untuk menindak kasus ini sampai tuntas, terungkap secara gamblang," kata Ketua Umum DPP IMM Najih Prastiyo dalam siaran persnya kepada SINDOnews, Rabu (11/10/2018).

Najih tidak setuju jika kasus ini diselesaikan hanya dengan permintaan maaf. Menurut dia, hal itu merupakan bentuk pelemahan terhadap pemberantasan penyebaran hoaks.



Dia pun mendukung penuh segala upaya Polri untuk menegakkan hukum sesuai porsinya dan mengutuk segala tindakan dan upaya pelemahan terhadap polri.

Kendati demikian, Najih mengingatkan kepolisian untuk tetap mendahulukan asas praduga tak bersalah terhadap pemanggilan beberapa saksi dalam pengusutan kasus hoaks Ratna Sarumpaet.



Dia juga meminta seluruh pihak terkait agar tidak kemudian mengarahkan isu hoaks ini menjadi isu yang mengarah kepada sentimen keagamaan.

Najih menyarahkan polisi mengedepankan pelayanan dan pendekatan kultur dalam menangani kasus hukum Ratna Sarumpaet yang berhubungan dengan tokoh bangsa.

"Meminta kepada seluruh elemen politik untuk tidak menunjukkan kembali akrobat-akrobat politik yang bisa mengusik kerukunan di tahun politik ini," tuturnya.

Dia juga meminta hentikan upaya pelemahan KPK dan Polri dalam situasi tahun politik.
(dam)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak