alexametrics

Amalkan Pancasila, Indonesia Kuat dan Abadi

loading...
Amalkan Pancasila, Indonesia Kuat dan Abadi
Apabila Pancasila dilaksanakan dengan baik akan membendung masuknya berbagai ideologi asing seperti radikalisme dan terorisme. Foto/SINDOnews/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2018 harus dijadikan momentum untuk mengembalikan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa yang hakiki.Dengan nilai-nilai luhur yang ada dalam lima silanya, Pancasila sudah terbukti mampu merawat Indonesia sejak merdeka sampai sekarang.

Dengan kembali memperkuat bangsa terhadap pemahaman nilai Pancasila dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, ke depan Indonesia pasti kuat melawan ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Bila itu terjadi maka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan abadi.



“Saya mengimbau seluruh bangsa Indonesia untuk kembali menjadikan Pancasila bukan sekadar lima sila yang tertera dalam huruf, tapi melaksanakan Pancasila sebagai sebuah falsafah hidup bangsa dalam kehidupan sehari-hari. Kalau lima sila itu betul-betul dilaksanakan, pasti akan menjadi kekuatan hebat bagi bangsa Indonesia yang majemuk tapi bersatu,” kata tokoh kebangsaan, Lily Chodidjah Wahid di Jakarta, akhir pekan lalu.

Lily Wahid yakin bila Pancasila dilaksanakan dengan baik, masuknya berbagai ideologi asing seperti radikalisme dan terorisme, otomatis akan terbendung.

Menurut dia, Pancasila sangat ideal dengan Indonesia. Itu sudah dipikirkan dengan matang oleh para founding fathers bangsa saat memutuskan Pancasila yang ada dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai ideologi dan landasan hidup bangsa, dengan mengganti tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yaitu Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Itu dilakukan demi untuk mengakomodir keinginan saudara-saudara kita dari Indonesia timur. Pasalnya, Indonesia timur mau bergabung dengan Indonesia bila tujuh kata itu dihilangkan.

“Itu kontribusi umat Islam yang sangat besar. Kalau hari ini ada isu intoleransi, itu adalah buah gangguan dari luar yang memang ingin memecah belah bangsa kita. Wong selama ini selama 72 tahun merdeka tidak ada apa-apa, dengan tujuh anak kata yang dihilangkan itu,” tuturnya.

Dia menilai, upaya-upaya yang ingin memecah belah Indonesia adalah sebuah setingan internasional yang ingin menjadikan Indonesia menjadi beberapa negara bagian.

Menurut dia, upaya pecah belah itu sudah lama dilakukan, namun sampai saat ini tidak pernah berhasil. Konspirasi internasional itu tidak lepas dari keinginan negara-negara asing yang ingin menguasai sumber daya alam Indonesia yang sangat kaya.

“Mereka menggunakan cara-cara dengan ongkos murah, yaitu adu domba. Hari ini yang mereka benturkan Islam dengan Islam dan yang dipakai sebagai isu salah satunya intoleransi dan kebinekaan. Padahal Pancasila sebagai sebuah kesatuan sudah menjaga kita dari benturan sesama anak bangsa,” ungkap mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Dia mengaku kondisi bangsa Indonesia yang karut marut akhir-akhir ini akibat mulai lunturnya pemahaman dan pengamalan Pancasila, terutama di kalangan generasi muda. Bahkan banyak orang Indonesia yang sudah tidak hafal lagi dengan sila-sila Pancasila.

Lily sangat mendukung upaya pemerintah yang ingin kembali mengaktualisasikan kembali Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.

Menurut dia, nilai-nilai Pancasila inheren dengan kehidupan bangsa Indonesia karena kemanusiaan itu bagian dari keimanan, turunan dari ketuhanan. Kemudian keadilan sosial ini adalah dakwah bil hal-nya, dalam kenyataan sehari-harinya.

“Jadi sebetulnya harus kita upayakan untuk memperbaiki keadaan hari ini adalah membangkitkan kembali persatuan Indonesia dan musyawarah mufakat,” tuturnya.
(dam)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak