alexametrics

Kontroversi Isu Keagamaan di Tahun Politik

loading...
Kontroversi Isu Keagamaan di Tahun Politik
Agama (Islam) dan politik tidak dapat dipisahkan. Memisahkan agama dari politik akan menghasilkan sistem politik dan kenegaraan sekuler seperti yang terjadi di Barat. Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
Faisal Ismail

Guru Besar Pascasarjana FIAI



Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

 

AGAMA (Islam) dan politik tidak dapat dipisahkan. Memisahkan agama dari politik akan menghasilkan sistem politik dan kenegaraan sekuler seperti yang terjadi di Barat.

Dalam Islam, tidak ada pemisahan urusan agamawi dari urusan duniawi, keduanya harus terintegrasi. Agama bisa dilontarkan sebagai isu politik asalkan dalam melontarkan isu itu memakai etika agama dan cara rasional-proporsional. Misalnya, agama sangat mencela dan melarang perbuatan korupsi.

Perilaku korup dan perbuatan korupsi (sebagai larangan agama) dapat dilontarkan sebagai isu politik dalam kampanye pemilu. Para jurkam misalnya menyerukan kepada rakyat/calon pemilih agar tidak memilih calon anggota legislatif, gubernur, bupati, wali kota, dan pemimpin yang diketahui (pernah) melakukan korupsi.

Ini berarti, calon yang tidak melakukan korupsi harus dipilih. Dalam konteks ini (dan konteks sejenis), agama dapat dijadikan isu politik atau tema kampanye agar rakyat memilih wakil dan pemimpin yang memiliki rekam jejak yang baik demi terselenggaranya pemerintahan yang bersih.

Tersulut oleh luapan tensi politik yang memanas, dalam kampanye pemilu tidak jarang jurkam secara tidak proporsional menjadikan agama sebagai komoditas politik. Sudah pasti, tujuannya untuk memojokkan lawan politiknya agar dapat dikalahkan.

Kubu partainya hendak meraih keuntungan politik dengan cara menggunakan isu agama dan baginya cara apa pun halal asal tujuan tercapai. Praktik Machiavellistis pun mereka terapkan untuk meraih tujuan.

Fenomena seperti ini dapat dilihat di tahun politik atau di saat kampanye pemilu dilaksanakan. Secara ringkas, berikut ini dipaparkan kontroversi isu keagamaan yang mencuat di tahun politik.          

 

Golkar dan Fatwa Haram


Kontroversi isu keagamaan sangat terasa dalam kampanye Pemilu 1971. Dalam upaya memojokkan Golkar, kalangan muslim dan jurkam Partai NU menyerukan kepada komunitas muslim agar “La taqrabu hadzihisy syajarah” (Jangan dekati pohon itu; maksudnya: Jangan dekati Pohon Beringin/jangan pilih Golkar). Kampanye ini ditujukan kepada kalangan muslim agar menjauhi Golkar dan memberikan suara mereka kepada NU.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak