alexametrics

Soal Pakta Integritas GNPF, Kubu Prabowo Akan Baca Lebih Dulu

loading...
Soal Pakta Integritas GNPF, Kubu Prabowo Akan Baca Lebih Dulu
Wakil Ketua Umum partai Gerindra, Fadli Zon menyebut bisa saja Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno menolak mendatangani pakta integritas GNPF. Foto/Raka Dwi Novianto/SINDOnews/Dok
A+ A-
JAKARTA - Wakil Ketua Umum partai Gerindra, Fadli Zon menyebut bisa saja bakal calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno menolak mendatangani pakta integritas dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama pada ijtimak ulama II.

Menurut Fadli, hal itu dimungkinkan lantaran Prabowo dan Sandi belum melihat dan membaca secara rinci mengenai pakta integritas itu.

"Nanti kita lihat. Kita baca dulu. Yang jelas yang saya baca untuk mendukung pak Prabowo dan Pak Sandiaga. Saya kira itu langkah besar dari proses. Nanti kita lihat hasil, kita menghargai apa yang dibicarakan," kata Fadli saat menghadiri ijtimak Ulama II, di Grand Cempaka Hotel, Jakarta, Minggu (16/9/2018).

Ketua GNPF Ustadz Yusuf Muhammad Martak menilai, kehadiran pakta integritas sangat penting untuk pasangan Prabowo-Sandi. Karena menurutnya, apabila pakta integritas telah diteken, secara otomatis peserta ijtimak akan memberikan dukungan pada Prabowo-Sandi.

"Tatkala menandatangani pakta integritas berarti ada keseriusan, apabila ia didukung, ia akan menjalankan amanat di pakta integritas. Karena yang ada di pakta integritas keselamatan keberpihakan dan kelangsungan masyarakat sangat tinggi. Kita tidak punya bargaining lain," jelas Yusuf.

Menurut Yusuf, tidak ada kesempatan untuk Prabowo-Sandi apa-apa saja yang sudah tercantum dalam pakta integritras yang sudah disepakati oleh para ulama dan tokoh nasional. "Kita tidak jual beli, given. Mau tanda tangan? Oke. Kalau tidak mau tanda tangan, selamat jalan," pungkasnya.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak