alexametrics

Kurban dan Kedermawanan Sejati

loading...
Kurban dan Kedermawanan Sejati
Foto: Ilustrasi/KORAN SINDO
A+ A-
Ahmad Sahidah
Dosen Senior Alqur’an dan Hadits Universiti Utara Malaysia

KITA akan menyaksikan hal serupa saban tahun, salat dua rakat berjamaah, takbir bersama, dan penyembelihan hewan kurban. Selain media cetak dan elektronik, media sosial akan dipenuhi dengan gambar orang yang bersembahyang di masjid atau di tanah lapang dan sejumlah orang kaya dan politikus menyumbang seekor sapi atau lebih ke tempat ibadah.

Lalu, sekantong daging diberikan pada orang yang antre. Gambaran ini selalu hadir di hari suci itu. Setelah berlangsung sekian lama, adakah pesan tersirat dari berkurban telah betul-betul merembes ke dalam kesadaran umat?

Betapa damai kita melihat ribuan orang mengagungkan Tuhan dalam suasana syahdu dan khusyuk. Kita pun tersentuh melihat begitu banyak orang bermurah hati, peduli pada kaum fakir miskin. Tak lama kemudian, orang  terperangkap dalam rutinitas, seakan-akan gairah religiusitas dan sikap filantropis itu hilang tidak berbekas.



Kesyahduan dan kekhusyukan tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari, karena masjid sepi dan hanya segelintir orang tua dan para pensiunan memakmurkan peribadatan.  Kedermawanan yang ditujukan pada kesejahteraan orang kebanyakan bertukar pada kepuasaan diri karena telah menunaikan kebajikan. Jadi, jika umat Islam bisa meluangkan waktu berjamaah dan kaum kaya bermurah hati untuk berderma, maka di luar hari lebaran, seeloknya mereka juga bisa melakukan keduanya.

Namun, boleh dikatakan setelah hari tasyriq, masjid dan surau dibekap sepi, dan orang-orang miskin mengais rezeki dalam kesusahan tak terperi dan penganggur menanggung beban berhari-hari.  Tak ayal, kebiasaan perayaan itu seakan-akan tidak lebih daripada perbuatan untuk menebus kealpaan beribadah dan keteledoran mengabaikan nasib yang teraniaya selama setahun.

Padahal, jika suasana kebersamaan itu juga hadir pada hari-hari biasa, betapa hidup ini menyenangkan. Sebagai tetangga, kita perlu saling menyapa satu sama lain dalam suasana tenang dan tentram. Dengan meluangkan waktu berjamaah di lingkungan tempat kita tinggal, setiap individu bisa bertegur sapa dengan jiran.

Keterasingan yang merupakan akibat buruk kehidupan modern bisa dikikis dengan kebiasaan seperti ini. Sayangnya, kebanyakan mereka abai. Kalaupun alasannya tak ada waktu karena kesibukan, namun di hari Minggu atau libur tempat ibadah itu pun masih lengang.

Di tengah banyak peternak atau petani membutuhkan sapi untuk dipelihara, orang-orang berduit itu seakan-akan tak melihat, padahal jika sedikit uangnya dibelikan seekor sapi tak akan membuatnya bangkrut. Lalu, kemanakah mereka?

Empati
Dalam wacana antropologi, berkorban (sacrifice) berkait keadaan pelaku sebagai pembawa polusi, dosa atau kesalahan dan persembahan itu dianggap sarana untuk membersihkan tubuh seseorang atau sosial dari noda moral ini (Veena Das, 1983).

Sebagai observasi ilmu sosial, temuan ini tidak salah, karena ia merupakan nilai yang juga menempel pada ibadah kurban. Namun demikian, dalam surah Alhajj (37), darah dan daging itu tidak sampai pada Tuhan, tetapi takwa.

Ketakwaan itu bukan sekadar wujud dari pengabdian diri tetapi juga iman yang murni, yaitu rasa empati pada orang lain. Dengan demikian, ia tidak lagi pemenuhan hasrat diri, tetapi berkorban untuk kebanyakan.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak