alexametrics

Sambut HUT RI, Kemendikbud Gelar Pameran Sejarah Asian Games

loading...
Sambut HUT RI, Kemendikbud Gelar Pameran Sejarah Asian Games
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menggunting pita tanda dibukanya secara resmi pameran Sejarah Asian Games. foto ist
A+ A-
JAKARTA - Menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan (HUT) RI ke-73 dan pesta olahraga Asian Games XVIII, Direktorat Sejarah, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, menyelenggarakan pameran sejarah Asian Games dengan tajuk "Olahraga dan Pembangunan Etos Kerja (Energi yang Tak Pernah Padam)". Pameran ini berlangsung di dua tempat yaitu di Museum Nasional (dari 18-28 Agustus) dan Plaza Insan Berprestasi kantor Kemendikbud (dari 17- 25 Agustus).

Pameran yang dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid ini disambut antusias oleh masyarakat. Hal ini tampak dari jumlah pengunjung yang memenuhi Lobby Kaca Gedung B Museum Nasional.

Pembukaan dimeriahkan oleh musik, tetarian dan pencak silat. Pembukaan pameran juga diisi dengan talkshow yang menghadirkan legenda olahraga antara lain Lanny Gumulya (peraih emas loncat indah Asian Games IV), Retno Kustijah (peraih emas bulutangkis Asian Games IV, dan Buna Wijaya (pebasket Asian Games IV).



Pameran menghadirkan berbagai foto, pemutaran video sejarah berupa dokumenter, dan benda-benda memorabilia kejayaan Asian Games koleksi Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional.

Dirjen Kemendikbud Hilmar Farid mengatakan pameran bertujuan untuk mengenang kembali bahwa Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games. Para atlet senior sengaja dihadirkan dalam acara talkshow agar masyarakat bisa mendengar dari mereka saat bertanding pada Asian Games 1962.

Menurut Hilmar, cerita dari para atlet penting sekali untuk memberi motivasi dan pengalaman. “Ini bukan sekadar mendengar cerita siapa yang paling cepat di lapangan, cerita dari mereka adalah pelajaran yang berharga," jelas dia.

Lebih lanjut, Hilmar menilai, penyelenggaraan Asian Games untuk kedua kalinya di Indonesia, menjadi momen penting dalam membangun etos kerja masyarakat Indonesia. Pembangunan infrastruktur fisik yang dilakukan semakin berdampak pada pembangunan karakter dan budaya baru di masyarakat. Lewat penyelenggaraan Asian Games, menurutnya, terjadi dorongan besar untuk pembangunan secara fisik. Namun, sejalan dengan itu bangsa Indonesia juga sedang berproses membangun budaya baru.

"Bung Karno dulu kan fokusnya nation building. Jadi, bagaimana mempersatukan orang Indonesia dalam sebuah gawe raksasa. Memang betul-betul ujian kemampuan. Pekerjaan raksasa ini hanya mungkin jika didukung kebudayaan masyarakat yang solid," jelasnya.

Semangat pembangunan infrastruktur, baik untuk tempat perlombaan Asian Games dan konektivitas, harus dibarengi dan dilanjutkan dengan pembangunan kebudayaaan dan peradaban bangsa. Sesuai dengan pernyataan Presiden Joko Widodo pada pidato kenegaraan di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), pada tanggal 16 Agustus 2018 yang lalu.

"Karakter, semangat, etos seperti ini yang kita perlukan untuk membangun peradaban baru Indonesia di tengah kemajuan infrastruktur," kata Hilmar, usai membuka secara resmi pameran, Sabtu (18/08).

(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak