alexametrics

Kedermawanan di Negeri Rawan Bencana

loading...
Kedermawanan di Negeri Rawan Bencana
Foto/Ilustrasi/KORAN SINDO
A+ A-
Biyanto

Dosen UIN Sunan Ampel dan

Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim



 
MASA pemulihan akibat gempa bumi berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) di Lombok dan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang terjadi pada Sabtu (29/7) belum juga selesai. Gempa bumi lebih besar berkekuatan 7,0 SR kembali terjadi di daerah yang dikenal dengan Pulau Seribu Masjid itu pada Ahad (5/8). Jumlah korban meninggal dan luka-luka akibat gempa bumi kedua ini jauh lebih besar. Kerusakan bangunan rumah, tempat ibadah, infrastruktur, dan fasilitas publik lain juga tampak lebih parah.

Bukan hanya korban jiwa dan kerusakan bangunan fisik, rangkaian gempa bumi juga menghadirkan trauma psikologi yang mendalam. Kondisi itu meniscayakan pentingnya penanganan yang lebih komprehensif terhadap korban bencana, termasuk penyembuhan perasaan traumatik (traumatic healing).

Langkah ini penting karena bencana alam seperti gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung terus terjadi di sejumlah daerah. Berbagai peristiwa itu menunjukkan bahwa negeri tercinta tergolong rawan bencana alam.

Bahkan, bukan hanya bencana alam, negeri ini juga rawan terjadi bencana kemanusiaan. Salah satu indikatornya terjadi insiden intoleran berlatar belakang perbedaan budaya, etnik, agama, dan paham keagamaan di sejumlah daerah. Hal yang membanggakan, rangkaian kejadian bencana alam dan kemanusiaan tersebut telah menumbuhkan kesadaran berupa komitmen sesama warga bangsa terhadap pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.

Tengoklah komitmen kemanusiaan sesama anak bangsa ketika terjadi musibah tsunami (Aceh dan Mentawai), gempa bumi di Bantul (Yogyakarta), banjir bandang di Wasior, Manokwari (Papua Barat), letusan Gunung Merapi di Sleman (Yogyakarta),  Sinabung (Sumatera Utara), dan Karangasem (Bali). Dengan tanpa pamrih berbagai elemen masyarakat melakukan aksi kemanusiaan untuk menolong sesama. Aksi kemanusiaan itu dilakukan secara tulus, tanpa melihat perbedaan latar belakang sosial dan soal-soal primordial lain.
halaman ke-1 dari 3
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak