alexametrics

Nation Branding Republik Vyanisty

loading...
Nation Branding Republik Vyanisty
Febry Arifmawan, Dosen Maiji (Manajemen Industri dan Jasa Indonesia) Business School, Jakarta. Foto/dok/SINDOnews
A+ A-
Febry Arifmawan
Dosen Maiji (Manajemen Industri dan Jasa Indonesia) Business School, Jakarta






ASIAN Games 2018 tak hanya semarak oleh kompetisi antaratlet, pernak-perniknya pun ramai dibicarakan. Salah satunya official theme song yang kebetulan dinyanyikan oleh Via Vallen, pedangdut kondang Tanah Air. Tak kalah memesona dari olah vokal dan goyang dinamisnya, dangdut Via Vallen ini pun menarik untuk dikaji dalam posisinya sebagai representasi produk budaya Indonesia yang bernilai strategis.   

Dangdut kegemaran Vyanisty, demikian fans Via Vallen menyebut dirinya, sebagaimana jenis musik lain merupakan bagian dari sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. Terdapat 2 basis ekonomi kreatif, yaitu budaya dan teknologi yang tersusun dalam 16 subsektor, mulai dari musik, kuliner, kerajinan tangan, games, animasi, sampai fashion. Sektor ini menjanjikan prospek cerah, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2014 adalah Rp784,82 triliun dan pada 2015 menjadi Rp852 triliun atau meningkat 8,6%.

Sayangnya, pengembangan ekonomi kreatif Indonesia harus berhadapan dengan berbagai kendala, mulai dari terbatasnya sumber daya manusia, sampai belum terwujudnya regulasi yang menguntungkan pelaku industri kreatif dalam hal ketentuan perpajakan, perizinan usaha, hingga pendanaan dan akses permodalan. Sementara dari aspek hukum, penghormatan atas Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) jadi problem tersendiri.   

Industri Budaya Pop Korea Selatan  
Beberapa negara terbukti sukses menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui industri kreatif berbasis budaya, salah satunya Korea Selatan. Lepas dari krisis moneter Asia 1997, Presiden Kim Dae-jung mempromosikan reformasi ekonomi dan merestrukturisasi proyek-proyek untuk fokus pada inovasi industri budaya (Hong 2014). Pemerintah Korea Selatan berkomitmen menginvestasikan 1% dari anggaran nasionalnya untuk belanja subsidi dan pinjaman berbunga rendah demi membina industri konten budaya (Leong 2014).

Negeri Ginseng menyediakan berbagai bentuk subsidi dan dana stimulus investasi untuk produsen konten budaya, termasuk di dalamnya: musik pop, drama TV, dan rumah produksi film. Hasilnya, pada awal 2000-an, ekspor konten budaya Korea meroket hingga kisaran USD500 juta. Pada 2013, drama Korea menempati 82% dari USD167 juta, total nilai ekspor konten TV dari Korea Selatan (Korea Creative Content Agency 2015). Pada 2014, total volume ekspor konten budaya ini bahkan melebihi USD5,4 miliar. Sejak itu Korean Wave populer, sebuah istilah untuk menyebut penyebaran budaya pop Korea secara global.
halaman ke-1 dari 3
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak