alexametrics

Mengukur Kans Capres dan Cawapres 2019

loading...
Mengukur Kans Capres dan Cawapres 2019
Pendaftaran capres dan cawapres akan digelar Agustus 2019. Antarparpol pun mulai melakukan komunikasi intensif untuk mencari sosok ideal capres dan cawapres. Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Belakangan santer beredar nama-nama tokoh yang berpotensi besar menjadi calon wakil presiden (cawapres) bagi calon petahana, Jokowi dan penantangnya, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Adapun cawapres Jokowi yang dari kalangan partai politik (parpol) seperti Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy, dan politikus Partai Demokrat TGB M Zainul Majdi.

Ada pula nama Budi Gunawan, mantan Wakapolri yang saat ini menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Selain itu, juga beredar nama-nama yang berpotensi menjadi pendamping Prabowo dari kalangan parpol seperti politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Heryawan dan Salim Segaf Al Jufri, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zullkifli Hasan.

Sedangkan dari kalangan nonparpol muncul nama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; dan mantan Panglima TNI, Jenderal Purn Gatot Nurmantyo, dan pengusaha Chairul Tanjung.

"Pertanyaanya apakah Jokowi akan mengandeng cawapres seperti nama-nama yang sudah diumumkan di atas? Atau akan ada daya kejut dari Jokowi di luar nama-nama yang sudah prediksi," kata

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, Sabtu (14/7/2018).

Mengenai kans Mahfud MD menjadi cawapres Jokowi, Pangi menuturkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu merupakan figur sangat menarik.

"Dalam soal ujian integritas beliau sudah selesai, bisa melewati dengan baik dan membuktikannya," tuturnya.

Apakah Mahfud MD pantas jadi cawapres Jokowi? Pertama, lanjut dia, Mahfud MD memiliki jam terbang tinggi di pemerintahan, track record bagus, sucses story-nya jelas baik di level eksekutif, legislatif dan yudikatif.

"Beliau pernah jadi Menteri Pertahanan di era Presiden Gus Dur, di legislatif pernah menjabat anggota DPR dan di institusi yudikatif pernah menjadi ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Di samping itu, beliau punya modal suara akar rumput (grassroot), representasi santri dan NU," katanya.

Nah, sambung dia, track record Mahfud yang panjang itu diharapkan mampu menutupi kelemahan Jokowi soal pengelolaan isu-isu Umat dan kebangsaan. Namun ada persoalan dan kelemahan, karena Mahfud bukan dari parpol.

"Apakah Mahfud bisa diterima di tataran level elite partai koalisi pendukung Jokowi, akan-kah mendapat restu dari Megawati?" katanya.

Terkait figur ulama Ma'ruf Amin, Pangi mengatakan Ma'ruf belakangan mulai diperhitungkan oleh poros koalisi gerbong Jokowi karena representasi kelompok Umat Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan selama ini terkesan tegas dan tidak memusuhi umat, mengayomi dan ulama cukup menyejukkan politik kebangsaan, sangat bijak, ulama yang di tengah.

Menurut dia, sosok figur Ma'ruf Amin dibutuhkan Jokowi dalam maintenance prolem keumatan. Kalau tidak terjadi split ticket voting maka grasroot NU dan PKB besar kemungkinan bulat memilih Ma'ruf Amin.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak