alexametrics

Soliditas Tim

loading...
Soliditas Tim
Candra Fajri Ananda. Foto/Istimewa
A+ A-
Candra Fajri Ananda

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

HIRUK-pikuk Piala Dunia masih terus berjalan hingga hari ini. Secara mengejutkan banyak pemain kategori terbaik dunia saat ini seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, terakhir Neymar, terpaksa harus angkat koper lebih awal.

Mohamed Salah yang musim lalu begitu bersinar pun nyata-nyatanya sudah tersingkir, bahkan saat baru menjalani dua laga. Meskipun berjalan di luar dugaan, kalau kita perhatikan lebih mendalam ada benarnya juga mengapa pesona kebintangan seseorang tidak cukup menyelamatkan sebuah negara (tim sepak bola) dari kegagalan.

Kita harus memahami terlebih dulu bahwa sepak bola adalah olahraga tim, yang merupakan gabungan dari 11 pemain di lapangan, bukan penonjolan salah satu anggotanya. Untuk memenangkan suatu pertandingan, diperlukan tim solid yang mampu membangun kebersamaan dan pemahaman yang sama di antara pemain, pelatih, dan pengelola sepak bola. Hal itulah yang bisa dipahami dari pengalaman beberapa negara yang telah menjadi world champion.

Pada Piala Dunia empat tahun lalu, Jerman sudah membuktikan bahwa kesebelasan mereka mampu menjadi yang terbaik, kendati tidak ada pemain terbaik dunia yang bermain untuk tim mereka. Tetapi mereka memiliki modal kolektivitas yang berasal dari para pemain dengan kualitas merata dan hampir semuanya bermain di liga papan atas.

Tetapi, tidak ada individu yang betul-betul tampak paling menonjol layaknya peraih Ballon d’Or (gelar pemain sepak bola terbaik Eropa), bahkan di laga final mereka berhasil mengalahkan Argentina yang di dalamnya diperkuat Lionel Messi.

Fenomena seperti ini yang kemudian mengilhami penulis untuk berpikiran sederhana. Ada kalanya untuk memperoleh sesuatu yang besar dibutuhkan sumber daya yang kuat dan soliditas yang erat.

Sebuah rumah megah pun jika hanya mengandalkan satu pilar besar untuk menahan semua tekanan lambat laun akan segera runtuh juga. Termasuk di dalamnya terangkum pesan tentang cara untuk memenangkan persaingan ekonomi.

Saat ini perekonomian kita menghadapi turbulensi ekonomi dunia yang sangat dahsyat. Munculnya perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) tentu akan segera memicu dampak domino terhadap stabilitas ekonomi dan sosial yang sangat besar bagi negara-negara lain.

Khususnya, terhadap negara yang saat ini tengah melakukan trading dengan China dan AS. Jumlahnya bisa jadi sangat banyak karena kedua negara sedang menjadi kutub perdagangan dunia—dan beberapa negara sudah ada yang mengalami “batuk”. Ada juga yang bahkan sudah mulai “muntah” seperti Turki yang mengalami penurunan mata uangnya paling parah.

Kurs rupiah secara perlahan namun pasti sudah tampak menuju keseimbangan yang baru. Di awal Juni 2018 kurs kita, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), masih tampak lumayan sehat, berada di angka Rp13.872 per dolar AS (4/6). Berikutnya, pada 10 Juli kemarin, sudah melemah menjadi Rp14.326 per dolar AS.

Kendati Bank Indonesia (BI) sudah berupaya menahan turbulensi ekonomi dunia dengan meningkatkan tingkat bunga acuan (7 days repo rate) sampai 3 kali, hasilnya pun belum seperti yang diharapkan. Penulis meyakini, bisa jadi setelah ini BI akan kembali meningkatkan 7DRR sembari menunggu bagaimana The Fed (Bank Sentral AS) akan menciptakan akrobat kebijakan moneter selanjutnya.

Sebagai informasi, menjelang Lebaran kemarin The Fed sudah menaikkan Fed Fund Rate (FFR) untuk yang kedua kalinya pada tahun ini, dari 1,75% menjadi 2%. Atas kenaikan tersebut BI kemudian berusaha mengimbangi dengan meningkatkan 7DRR dari 4,75% menjadi 5,25%. Tujuannya agar para pemodal menahan lebih lama uangnya di Indonesia.

Beberapa bankir kemudian memprediksi, jika The Fed akan meningkatkan kembali FFR-nya hingga dua kali lagi di sisa tahun 2018, maka BI yang sementara ini secara agregat sudah meningkatkan suku bunga acuannya hingga 1%, akan terus membengkak menjadi total 2%.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak