alexametrics

Pelajaran dari Pilkada Makassar

loading...
 

Kedua, rakyat mulai memiliki kemandirian dalam berpolitik. Mereka mencoba lepas dari hegemoni parpol. Selama ini parpol kadang dengan seenaknya mengusung calon, tidak peduli apakah memiliki kapasitas yang memadai atau tidak. Seseorang bisa saja diusung di pilkada karena memiliki modal untuk “membeli” kendaraan politik. Rakyat akhirnya tidak diberi banyak pilihan dan “terpaksa” memilih calon berdasarkan selera parpol.

 

Calon tunggal sudah memicu pro-kontra sejak 2015. Saat Undang-Undang Pilkada diuji materi di Mahkamah Konstitusi (MK), hakim konstitusi memutuskan bahwa calon tunggal sah dan diperbolehkan sepanjang ada upaya sungguh-sungguh dari penyelenggara pilkada untuk menghadirkan lebih dari satu calon. Satu di antaranya memperpanjang pendaftaran.

 

Meski konstitusional, kasus kolom kosong memenangi pilkada tetap terasa “janggal”. Setiap pilkada sebaiknya bisa langsung meng­ha­silkan pasangan kepala daerah yang dipilih mayoritas rakyat. Itu demi menjamin kesinambungan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Sebaiknya jangan lagi memberi kesempatan kolom kosong un­tuk bertarung, apalagi sampai menang. Jika kolom kosong me­nang, maka daerah bersangkutan dipastikan akan dipimpin penjabat sementara untuk jangka waktu yang cukup panjang.

 

Perlu dipikirkan oleh pembuat undang-undang bagaimana agar di­buat aturan yang efektif demi mencegah kemunculan calon tunggal di pilkada. Usulan yang sejak dulu mengemuka antara lain perlunya pem­ba­tasan dukungan parpol kepada satu pasangan calon. Jangan ada ca­lon yang memborong parpol hanya karena punya modal elektabilitas dan didukung finansial yang kuat. Namun, usulan baik ini selalu men­tah karena ditolak parpol setiap kali UU Pilkada direvisi di DPR. Ke­me­nangan kolom kosong di Makassar seyogianya memberikan pelajaran kepada parpol agar tidak lagi egois dalam merumuskan aturan.

Apakah akan ada perubahan pada UU Pilkada, khususnya soal aturan calon tunggal setelah kejadian ini? Kita tunggu bersama.
(pur)
halaman ke-2 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak