alexametrics

Ketika Korea Utara Jumpa Amerika Serikat

loading...
Ketika Korea Utara Jumpa Amerika Serikat
Dinna Wisnu, PhD. Foto/Istimewa
A+ A-
Dinna Wisnu, PhD
Pengamat Hubungan Internasional
@dinnawisnu

KEMARIN Presiden AS Donald Trump berjumpa dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Singapura dan ditutup dengan pengumuman bahwa telah ada kesepakatan untuk memulai proses denuklirisasi (menghapus senjata nuklir) di Korea Utara.

Dari liputan menit per menit di media massa, nampak bahwa Kim Jong Un awalnya berwajah cukup tegang saat pertama bersalaman dengan Trump. Sementara Trump berkali-kali menepuk punggung Kim dan mengarahkan langkah Kim, khususnya ketika menuju ruang pertemuan tertutup. Kondisi terlihat cair saat penandatanganan terjadi. Keduanya terlihat rileks bahkan saling memuji.

Trump mengatakan bahwa kesepakatan tersebut bersifat “komprehensif” dan fantastis. Kim mengatakan bahwa “pertemuan kami bersifat historis dan kami memutuskan untuk meninggalkan masa lalu di belakang…dunia akan melihat perubahan besar”.

Belum ada detail kesepakatan (yang terbuka) antara AS dengan Korea Utara selain tiga hal ini. Pertama, AS berkomitmen menyediakan jaminan perlindungan keamanan pada Korea Utara sementara Korea Utara mengkonfirmasi komitmenya menghapus senjata nuklir dari Semenanjung Korea.

Kedua, AS dan Korea Utara akan segera melakukan tindak lanjut di level menteri untuk mengimplementasikan kesepakatan hari itu. Ketiga, kedua negara akan bekerja sama membangun rezim yang stabil dan berkelanjutan di Semenanjung Korea, termasuk kemungkinan perjanjian damai antara Korea Utara dengan Korea Selatan.

Kesan pertama yang muncul dalam pikiran saya melihat pertemuan kedua negara yang secara ideologis ekstrem perbedaannya adalah bahwa mereka mengambil pendekatan realis dan pragmatis. Realis dalam arti lebih melihat hubungan negara sebagai sebuah proses untuk menemukan titik keseimbangan di antara dua atau lebih kekuatan agar tujuan atau strategi yang lebih besar bisa berjalan; pragmatis dalam konteks lebih mementingkan capaian jangka pendek.

Bagaimana kemudian Indonesia harus bersikap dengan dampak yang akan lahir dari kedekatan antara AS dan Korut? Apa yang perlu menjadi perhatian bersama?

Pertama, terkait waktu (timing) mengapa AS dan Korea Utara memilih untuk duduk bersama meskipun kecurigaan di antara keduanya tidak bisa dikatakan sepenuhnya hilang. Saya melihat kedua belah pihak sama-sama didorong oleh kebutuhan di dalam negeri untuk mempertahankan arah kebijakan yang diyakini wajib dijalankan, mencerminkan kekuatan jati diri pemimpinnya, bahkan membuktikan kemampuan si pemimpin dalam menarik perhatian dunia.

Di sisi AS kebutuhan pembuktian kemampuan ini cukup nyata. Trump konsisten berupaya menerapkan semua janji kampanyenya sementara publik di AS terbilang sulit diyakinkan. Popularitas Trump masih di kisaran 40-45% dengan kubu anti Trump yang makin mengental. Sebagai pebisnis, Trump kukuh dengan program “America First” Trump yang proteksionis di bidang ekonomi.

Ia tetap pada pendiriannya bahwa AS banyak dirugikan oleh kesepakatan berkumpul dengan sejumlah negara. Nampak betul emosi beliau ketika berhadapan dengan negara-negara G-7 sehingga ia tak sungkan menarik dukungan pada pernyataan bersama G-7 meskipun dikecam keras dan “dihukum” balasan tarif tinggi karena menerapkan tarif baru untuk besi baja dan aluminium.

Trump mengatakan bahwa negara lain tidak bisa memaksa AS di luar kehendaknya. Trump juga menarik diri dari kesepakatan-kesepakatan yang dibuat sebelumnya oleh AS seperti Trans-Pacific Partnership, Kesepakatan Nuklir Iran, Kesepakatan Paris untuk perubahan iklim, bahkan mempertimbangkan menarik pasukan dari Suriah, Korea Selatan, Jepang bahkan dari wilayah Asia secara umum. Pertimbangan Trump adalah faktor biaya dan keuntungan langsung dari keterlibatan AS di seluruh dunia.

Sementara itu di sisi Korea Utara, Kim Jong Un sebagai seorang pemimpin muda (usia 33 tahun) butuh legitimasi jangka panjang sebagai pemimpin di negara yang kinerja ekonominya jauh di bawah rata-rata dunia. Meskipun Korea Utara kerap menjadi buah bibir dunia karena program senjata nuklirnya, jumlah dan kecanggihan senjata nuklir Korea Utara bukanlah yang terbanyak dan terbaik di dunia. Rusia tetap
yang terbanyak memiliki senjata nuklir aktif, diikuti oleh AS.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak