alexametrics

ILUNI UI Minta Isu 7 Kampus Terpapar Paham Radikal Dihentikan

loading...
ILUNI UI Minta Isu 7 Kampus Terpapar Paham Radikal Dihentikan
Ketua Umum Pengurus Pusat ILUNI UI, Arief Budhy Hardono mengatakan informasi yang menyebutkan tujuh kampus terpapar radikalisme adalah suatu hal serius. Foto/Ist
A+ A-
JAKARTA - Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) meminta semua pihak, baik dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi maupun lembaga swadaya masyarakat, untuk menahan diri dan tidak mudah mengeluarkan pernyataan mengkaitkan suatu kampus perguruan tinggi dengan radikalisme sampai ada definisi yang jelas dan terukur.

Karena itu, sebaiknya poster maupun meme di media sosial maupun di media massa yang menyebutkan adanya tujuh kampus perguruan tinggi negeri ternama terpapar paham radikalisme segera dihentikan. Jika perlu pelaku penyebarannya dapat diproses secara hukum karena mencemarkan nama baik perguruan tinggi negeri itu sendiri. Sebaliknya, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) segera memberikan klarifikasi atas informasi tersebut agar masyarakat tidak resah dan tidak saling curiga.

Ketua Umum Pengurus Pusat ILUNI UI, Arief Budhy Hardono mengatakan informasi yang menyebutkan tujuh kampus terpapar radikalisme adalah suatu hal serius. Pernyataan tersebut dapat menimbulkan dampak sosial yang meresahkan masyarakat kampus perguruan tinggi tersebut termasuk para keluarga mahasiswa, keluarga dosen alumninya maupun masyarakat di luar kampus.

"Organisasi-organisasi, kelompok-kelompok yang ada di lingkungan kampus bisa menjadi saling curiga, sementara pimpinan perguruan tinggi mulai dari rektor hingga dekan dan ketua jurusan menjadi repot untuk memberikan klarifikasi ke berbagai pihak,” ujar Arief dalam keterangan persnya, Selasa (12/6/2018).



Arief mengingatkan, sebelum seseorang atau suatu lembaga melontarkan tuduhan terhadap satu atau beberapa kampus, sebaiknya orang maupun lembaga tersebut duduk bersama dengan pihak kampus untuk mendefinisikan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan radikalisme dan ukuran-ukuran yang jelas.

Apabila belum ada definsi yang jelas, fakta yang kuat dan data yang terukur, hendaknya semua pihak berhati-hati dan menahan diri untuk melontarkan pernyataan ke media dan masyarakat terkait kampus perguruan tinggi dan radikalisme, apalagi di masyarakat saat ini berkembang bahwa radikalisme erat dikaitkan dengan terorisme.

Arif menegaskan, selama ini di lingkungan Kampus UI baik yang di Depok maupun Salemba Jakarta kehidupan sosial, sikap toleransi antar pemeluk agama di kalangan mahasiswa, dosen, dan alumninya berjalan sangat baik. Tidak pernah terdengar adanya konflik apalagi yang melibatkan kekerasan, antara mahasiswa, dosen maupun alumni dikarenakan perbedaan agama, kepercayaan dan paham. Semuanya guyub dan saling menghormati.

Demikian juga dengan kegiatan di masjid dan musala kampus baik yang di Depok maupun di Salemba, berjalan sangat terbuka dan inklusif. Mahasiswa dan dosen datang ke masjid selain menjalankan ibadah salat, diskusi juga untuk memperdalam pengetahuan agama.

"Tidak sedikit mahasiswa yang usai salat duduk di masjid untuk kembali membaca atau mengulang mata kuliah yang diajarkan di kelas-kelas. “ papar Arief.  

Ketua ILUNI UI Eman Sulaeman Nasim menambahkan, dosen dan alumni UI juga banyak berperan baik di lembaga pemerintahan, legislatif, yudikatif, organisasi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk terus membangun sistem politik dan demokrasi yang sehat dan baik dalam kerangka Pancasila dan NKRI.

Sedangkan mahasiswanya, selain mengukir prestasi di bidang pengembangan ilmu pengetahuan baik di tingkat nasional maupun dunia yang mengharumkan nama baik bangsa dan negara Republik Indonesia. Karena itu, tuduhan bahwa kampus UI terpapar radikalisme sangat mengagetkan dan membuat banyak dari alumni tersinggung.

Jika memang ada paham-paham atau ideologi tertentu yang dianggap membahayakan keutuhan bangsa dan negara di masa kini maupun masa depan yang berpotensi berkembang di kampus, maka sebaiknya aparat pemerintah, seperti BNPT, Polri, Kementerian Riset dan Dikti serta Densus 88 berkoordinasi dengan pimpinan perguruan tinggi, untuk mengambil langkah pengamanan dan pencegahannya dalam operasi senyap. "Tidak perlu digembar gemborkan yang membuat suasana gaduh dan saling curiga.” katanya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak