alexametrics

Ketika Mudik ke Jawa

loading...
Ketika Mudik ke Jawa
M Alfan Alfian. Dok/SINDOnews
A+ A-
M Alfan Alfian
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Pengurus Pusat HIPIIS

SAYA sekadar berbagi kenangan. Sudah puluhan tahun saya mudik ke Jawa, ke sekitar Solo. Selama itu, saya selalu menggunakan jalan darat. Mula-mula naik bis. Tentu butuh perjuangan mendapat kursi di tengah ribuan calon penumpang di Pulogadung atau Lebak Bulus ketika itu. Tak sebatas itu, pernahlah kami ditelantarkan di tengah jalan. Pernah juga naik kereta api. Saya antre sejak pagi buta untuk memperoleh tiket yang baru bisa dipakai sebulan kemudian. Kemudian, dalam beberapa tahun belakangan kami pakai mobil pribadi. Dengan begitu, nyaris setiap tahun saya menangkap nuansa mudik di jalan. Pernahlah pula, kami dari Jakarta ke Solo 30 jam.



Mudik ke Jawa tampaknya akan terus menjadi sorotan utama media. Seolah-olah peristiwa mudik di Indonesia itu bukan sekadar mudik ke Jawa. Kata Jawa sebagai penyederhanaan terhadap mereka yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, lazim diucapkan orang Betawi atau yang lain yang tinggal di Jakarta. Terhadap Jawa yang dipersempit maknanya itu, saya suka protes, kok sepertinya Jakarta ada di luar Jawa. Namun, lama-lama saya bisa memahami ketika ditanya, “Mau mudik ke Jawa Mas?”

Mudik ke Jawa, yang memperoleh porsi sangat besar di pemberitaan media itu, rasa-rasanya eksklusif, bahkan adakalanya terasa absurd. Eksklusif karena informasi kondisi jalan, tentu saja terutama jalan tol yang terus berkembang, hampir muncul setiap detik di televisi. Para reporter melaporkan dari berbagai sudut tol. Televisi-televisi Indonesia ramai memberitakan kemacetan atau sebaliknya kelancaran. Lancar kalau harinya masih jauh dari Idul Fitri. Macet kalau mendekati hari H. Di antara itu, puncak-puncak kemacetan mudik dirasakan. Saya biasanya mencerap suasana sepanjang jalan sebagai manusia pengembara yang siap menghadapi kondisi darurat apa pun.

Absurd karena, banyak orang nekat untuk mudik. Tentulah perjalanan kami selalu dikepung ribuan sepeda motor. Suatu pemandangan yang lazim bertahun-tahun para pesepeda motor yang dipadati tas, istri dan anak, kalau bukan bayi. Lautan sepeda motor dan mobil-mobil yang “berkonde”, membawa bekal tas dan kardus-kardus di atasnya bak pasukan perang yang tengah konvoi “long march”. Pada zaman ponsel pintar dewasa ini, salah satu hiburan mereka, yaitu selfie (swafoto).

Saya orang Jawa yang tinggal di Jakarta sejak pertengahan 1990-an. Tentu saya generasi yang lebih baru ketimbang tetangga-tetangga yang sudah eksis di Ibu Kota sejak 1960-an. Masa kecil dan remaja saya di Jawa. Dari suatu desa yang terkepung sawah di kawasan eks-Keresidenan Surakarta, saya harus naik sepeda menuju kota kecil Delanggu, selanjutnya naik bis ke Solo ketika SMA. Dengan corak Keislaman Muhammadiyah, saya kos di lingkungan NU di Mangkuyudan Solo.

Itu memperkaya pengalaman kultural Ramadan dan Lebaran saya di Jawa. Saya menangkap suasana sub-kultur berbeda. Desa agraris dan kota, modernitas dan tradisionalitas dari sisi pendekatan keagamaan. Ketika saya kos di suatu langgar kecil tetapi ramai orang sembahyang, rakaat tarawihnya lebih banyak ketimbang yang saya alami di desa. Idiom-idiom dan ilustrasi nasihat-nasihat keagamaan juga sering berbeda. Misalnya, ketika di desa, anak-anak muda bergotong royong setiap sore di masjid menimba sumur mengisi kolah penampung air wudu. Di kota, hal semacam itu tak terjadi karena semua telah dibereskan marbot yang tinggal pencet mesin air.
halaman ke-1 dari 2
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak