alexametrics

Kepastian dan Kestabilan

loading...
Kepastian dan Kestabilan
Candra Fajri Ananda. Foto/Istimewa
A+ A-
Candra Fajri Ananda
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

INTEGRASI global yang semakin menguat membuat kebijakan di suatu negara semakin cepat berdampak elastis ke negara lain. Apalagi jika di antara negara-negara tersebut memiliki hubungan yang kuat secara kultural, ekonomi, dan geopolitik.

Dampak kenaikan tingkat suku bunga The Fed (Bank Sentral AS) misalnya, sudah membuat hampir seluruh kurs mata utang dunia (termasuk rupiah) mengalami depresiasi dengan berbagai skala perubahan. Padahal, perekonomian kita belum lama berjalan stabil setelah perekonomian global terlepas dari fluktuasi dan uncertainty. Beberapa sektor ekonomi utama (khususnya industri) ketar-ketir terhadap dampak depresiasi rupiah.



Meskipun menteri keuangan berimbuh depresiasi akan menguntungkan kebijakan ekspor karena harga produk kita yang disinyalir menjadi murah, proyeksinya belum tentu berjalan linier sebab sisi hulunya (untuk pengadaan bahan baku/penolong) masih bergantung pada suplai dari negara lain (impor). Jadi, pergerakan harganya bisa saja “impas” sehingga skenario ekspor bersaing karena harga jual yang lebih rendah bisa jadi akan urung tercapai.

Skenario lainnya bisa berjalan lebih buruk jika depresiasi dan harga impor mendorong inflasi menjadi kurang terkendali. Pihak produsen dan konsumen akan menjadi korbannya.

Jika modal yang dimiliki produsen tidak mumpuni untuk menghadapi inflasi, mereka bisa cenderung memilih menurunkan produksinya karena bahan baku yang didapat semakin terbatas. Konsumen pun perlu bersiap-siap terganggu daya belinya jika kondisi keuangannya juga pas-pasan sehingga kita seharusnya tidak bisa mengabaikan kondisi yang sedang terjadi.

Dinamika perubahan eksternal dalam waktu dekat bisa semakin bertambah seiring perubahan struktur politik pascapemilu di Malaysia. Gerbong oposisi yang digubah Mahathir Mohamad telah ditetapkan sebagai pemenang pemilu Malaysia.

Kabarnya kemenangan ini akan diwarnai reformasi besar-besaran atas kebijakan perdana menteri sebelumnya. Isu yang paling dijual selama masa kampanye, yakni janji untuk mengevaluasi pola investasi dari China seraya menjaga kepentingan ras Melayu atas perekonomian Malaysia.

Beberapa pengamat memprediksi kondisi di Malaysia tersebut akan segera menjalar ke Indonesia karena kondisi geopolitik kita yang relatif mirip. Saat ini pihak di luar pemerintah sedang getol berkampanye tentang nasionalisme dan bahaya pola investasi yang berkembang secara eksisting.
halaman ke-1 dari 4
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak