alexametrics

Tragedi Mako Brimob

loading...
Tragedi Mako Brimob
Rombongan narapidana (napi) kasus terorisme telah tiba di Dermaga Diwijayapura Cilacap, Jawa Tengah, sekitar pukul 17.17 WIB, Kamis (10/5/2018). Foto/Ist
A+ A-
Tragedi kerusuhan dan penyanderaan di Rutan Salemba di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, yang dilakukan oleh narapidana teroris telah berakhir. Namun, insiden yang telah merenggut enam jiwa (lima anggota Polri dan satu napi teroris) tersebut menyisakan duka mendalam bagi se­lu­ruh masyarakat Indonesia.

 

Kejadian ini harus dijadikan warning  bahwa terorisme masih men­jadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Karena itu, kita semua harus bersatu untuk ikut mengenyahkan terorisme dari Bumi Pertiwi. Drama penyanderaan di Mako Brimob yang terjadi pada Selasa (8/5) malam sampai Kamis (10/5) pagi menjadi catatan serius ba­gi Pol­ri. Banyak kalangan menilai polisi terkesan lamban dalam me­­na­ngani kondisi darurat yang justru terjadi di markasnya sen­diri. ­

 



Pa­da­hal, Polri dengan Densus 88-nya dikenal dunia sebagai pa­sukan yang sa­ngat tangkas dalam mengungkap berbagai ja­ring­an teror di In­do­ne­sia. Tak mengherankan jika sejumlah k­a­lang­an menyatakan tra­ge­di di Mako Brimob ini merupakan tam­par­an keras bagi aparat ber­ba­ju cokelat tersebut. Peristiwa ini se­per­ti menghapus beragam pres­tasi Polri dalam penanganan ter­o­r­is­me yang selama ini diklaim gemilang. Terlepas dari pro dan kontra terhadap penanganan tragedi di Ma­ko Brimob itu, kita bisa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ter­s­ebut.

 

Pertama, kelambanan penanganan penyanderaan di Ma­ko Brimob tersebut bisa menimbulkan dampak kurang baik bagi wi­ba­wa pemerintah, khususnya Polri, baik di masyarakat maupun du­nia internasional. Hal ini sekaligus juga telah membuka celah bagi pe­la­ku teror dalam meningkatkan eksistensi mereka. Mereka bisa sa­ja semakin dibuat percaya diri dengan keberhasilannya dalam “me­nguasai” Mako Brimob.

 

Kedua, keberhasilan para napi teroris dalam menguasai Mako Bri­mob menandakan betapa rendahnya tingkat pengamanan di pen­jara tersebut. Patut dicurigai ada yang kurang dengan sistem peng­amanan di sana yang tidak seharusnya mampu dijebol oleh para na­pi. Apalagi, para napi sampai bisa mendapatkan senjata yang di­sim­pan di markas tersebut.

 

Ketiga, tragedi di Mako Brimob bisa dimaknai lebih luas terkait ba­­gaimana aparat Polri dalam menangani kasus terorisme, baik da­­lam memperlakukan para napi di tahanan maupun dalam upa­ya ­pe­nang­kapan di lapangan. Dalam arti, sejumlah kejadian me­nge­­san­kan Polri terlalu mengedepankan kebijakan represif da­lam mem­be­ran­tas terorisme.

 
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak