alexametrics

KAHMI Dorong Perbanyak Wirausahawan Milenial

loading...
KAHMI Dorong Perbanyak Wirausahawan Milenial
Presidium Majelis Nasional Koprs Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kamrussamad. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Di tengah era milenial saat ini perkembangan ekonomi tidak hanya dilihat melalui konvensional. Melalui teknologi digital bisa melihat perilaku konsumen dan lainnya.

Dengan demikian pelaku usaha juga bisa memantau secara langsung apa yang dibutuhkan pasar saat ini.

Presidium Majelis Nasional Koprs Alumni Himpunana Mahasiswa Islam (KAHMI) Kamrussamad mengatakan, melalui forum atau media sosial (medsos) bisa memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, bagaimana kecenderungan belanja mereka, barang apa yang sedang populer dan lain sebagainya.



Pengetahuan perilaku tersebut dinilai sangat penting sebagai landasan untuk mengembangkan bisnis, terutama ketika kamu ingin melakukan berbagai inovasi.

Menurutnya, era digital membawa dampak dan perubahan yang cukup besar dalam perdagangan dunia pada masa depan. Dia menegaskan ekonomi digital meningkat dua kali lipat dibandingkan 2008 yang baru mencapai 2% dari GDP dunia. Pertumbuhan untuk lima tahun ke depan diperkirakan sebesar 11% per tahun.

"Perdagangan digital merupakan bagian dari revolusi digital yang akan membawa dampak yang sangat luas bagi seluruh daerah," tegasnya.

Dari informasi yang diterima sebanyak 1,8 miliar jiwa penduduk di negara-negara Asia Pacific Economic Cooperation (APEC)‎ telah bertransaksi online pada akhir 2015.

Jumlah itu sebanding 65% penduduk APEC yang berjumlah 2,85 miliar jiwa. Jasa online yang mempunyai pasar sebesar USD 1,6 triliun diperkirakan akan tumbuh 13 persen per tahun sampai 2020. Sebanyak dua pertiga nilai tersebut berasal dari e-retail dan e-travel.

Oleh karena itu, kata dia, KAHMI selalu mendorong lahirnya wirausahawan yang milenial dan tidak gagap akan teknologi. Pasalnya, di era ini, pemasaran akan sangat mudah dimana sekarang kontrol tidak lagi dilakukan secara konvensional melainkan dengan digitilisasi.

"Jadi di mana pun, kapan pun pemantauan usaha bisa dilakukan melalui genggaman," tuturnya.

Apabila ada daerah yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah akan bisa terpantau. Seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di daerah ini faktor ketersediaan infrastruktur jalan, jaminan suplai listrik, serta kesiapan sarana sistem transportasi laut, udara, dan darat.

"Tapi ada juga yang infrastrukturnya baik namun banyak masyarakatnya yang tidak kreatif," tuturnya.

Menurut dia, orientasi kewirausahaan pada intinya juga mengubah paradigma dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Selain itu, harus bisa membantu mengembangkan bisnis para pengusaha muda dengan menciptakan jejaring luas, baik sesama pengusaha KAHMI maupun yang bukan.

Kemandirian di bidang ekonomi selaras dengan Impian Indonesia 2015-2085 yang dilontarkan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia menjadi negara mandiri dan paling berpengaruh di Asia Pasifik. Bahkan, Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

“Karena itu, para alumni harus didorong pengabdiannya di bidang ekonomi, sekaligus memperbanyak wirausahawan,” katanya.

Dia berharap kehadiran KAHMI preneur di beberapa daerah mulai dari Bali, Potianak, Mamuju dan beberapa kota lainnya di Indonesia bisa membukan peluang usaha yang juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kota atau daerah. Sehingga, apa yang dilakukan bisa langsung dirasakan manfaatnya untuk peningkatan kesejahteraan anggota KAHMI sebagai pelaku usaha
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak