alexametrics

Pakai Metode Cluster K-Means, Mahasiswa ITS Bisa Deteksi Penyebab Kebakaran Hutan

loading...
Pakai Metode Cluster K-Means, Mahasiswa ITS Bisa Deteksi Penyebab Kebakaran Hutan
Mahasiswa Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dedi Setiawan, Bekti Indasari, dan Dewi Lutfia Pratiwi memakai metode Cluster K-Means dan SDV untuk mendeteksi kebakaran hutan. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A+ A-
SURABAYA - Kebakaran hutan masih saja terjadi di Indonesia tiap tahun. Luas hutan di berbagai pulau di Indonesia memiliki potensi kebakaran yang cukup tinggi.

Mahasiswa Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menerapkan metode Cluster K-Means dan Singular Value Decomposition (SDV) untuk mendeteksi penyebab kebakaran hutan. Mahasiswa ITS yang digawangi Dedi Setiawan, Bekti Indasari, dan Dewi Lutfia Pratiwi ini juga sukses menjuarai Lomba Karya Tulis Ilmiah di Universitas Mulawarman.



Semua berawal dari pengalaman saat melakukan kerja praktik di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dedi Setiawan berinisiatif mengemban tugas untuk menganalisis wilayah yang berpotensi terjadinya kebakaran lahan dan hutan melalui data gambar yang diberikan oleh satelit NASA. Dedi menjelaskan, dirinya pun mulai menganalisis wilayah-wilayah tersebut tidak cukup hanya berdasarkan data-data kejadian kebakaran sebelumnya, tetapi tingkat curah hujan juga harus diperhitungkan.

Dari masalah ini, Dedi bersama tim mengangkat ide untuk menganalisis titik panas kebakaran di beberapa wilayah Indonesia berdasarkan pengaruh curah hujan dengan metode Cluster K-Means dan SDV. Cluster K-Means merupakan metode analisis yang digunakannya untuk mengelompokkan objek-objek pengamatan menjadi beberapa kelompok. Sehingga diperoleh suatu kelompok di mana obyek-obyek dalam satu kelompok tersebut mempunyai persamaan dan perbedaan yang nyata.

“Kalau SDV merupakan teknik untuk mengatur pola tingkat curah hujan yang dominan dari masa ke masa,” ujar Dedi di Surabaya, Minggu (1/4/2018).

Dedi bersama timnya menyampaikan bahwa data dan fakta masalah tersebut diolah dengan menggunakan data frekuensi terjadinya kebakaran dan pola tingkat curah hujan di Indonesia dalam kurun waktu antara tahun 1995 sampai 2016 yang diambil dari satelit.

Data-data tersebut, katanya, dikombinasi dan dianalisis menghasilkan 12.800 titik yang tercatat, yaitu sebanyak 28 titik yang berpotensi tinggi terjadi kebakaran hutan maupun lahan, 116 titik berpotensi sedang, dan 12.690 titik berpotensi rendah. Dari 28 Titik tersebut tersebar di wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat tepatnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak