alexametrics

Produktivitas Pekerja dan Kesejahteraan

loading...
Produktivitas Pekerja dan Kesejahteraan
Ketua DPR Bambang Soesatyo. Foto/Dok/KORAN SINDO
A+ A-
Bambang Soesatyo  Ketua DPR RI/Fraksi Partai Golkar





KLAIM pemerintah tentang meningkatnya produktivitas pekerja Indonesia melahirkan pertanyaan tentang relevansinya dengan kesejahteraan pekerja. Apakah komunitas pekerja juga menikmati nilai tambah dari peningkatan produktivitas itu? 

Sepanjang pekan pertama Maret 2018 ini pemerintah menyoal isu atau masalah ketenagakerjaan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoal perlakuan terhadap tenaga kerja asing (TKA) dengan kualifikasi tertentu. Presiden mendorong para menteri untuk tidak terlalu kaku dalam menyikapi kebutuhan TKA dengan kualifikasi khusus. Pemerintah harus luwes jika investasi baru memang butuh TKA dengan keahlian khusus.

 

"Pasar tenaga kerja sudah melewati batas-batas negara. Kita banyak mengirim tenaga kerja atau sering kita sebut sebagai buruh migran ke berbagai negara di Timur Tengah, di Asia Tenggara, maupun di Asia Timur, dan pada saat yang bersamaan sejalan dengan masuknya investasi kita juga menerima masuknya tenaga kerja asing dengan kualifikasi tertentu yang dibutuhkan dalam proses investasi," kata Presiden saat membuka rapat terbatas (ratas) soal TKA di Jakarta, Selasa (6/3).

Menindaklanjuti perintah Presiden itu, pemerintah merancang peraturan presiden (perpres) yang menjadi payung hukum bagi TKA dengan keahlian khusus. Perpres itu akan membuat mekanisme baru proses perizinan hingga pengawasan terkait TKA khusus. Dipastikan bahwa TKA bisa diterima untuk jenis pekerjaan yang belum ada di Tanah Air.

Pada hari yang sama, Kementerian Tenaga Kerja juga memublikasikan progres produktivitas pekerja Indonesia. Di sela-sela Conference and Workshop on Innovation Development di Jakarta, pejabat Kemenaker mengemukakah pada 2015 produktivitas per pekerja Indonesia mencapai USD24,3 ribu. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibanding produktivitas pada 1990. Artinya, selama 25 tahun produktivitas Indonesia tumbuh 3,1% per tahun. Gambaran ini diambil dari data Asian Productivity Organization (APO). Hampir sama dengan APO, The Conference Board dalam Total Economy Database mencatat produktivitas per pekerja Indonesia pada 2017 telah menembus USD24,6 ribu.

Berdasarkan data-data itu, produktivitas per pekerja Indonesia saat ini berada di peringkat 11 dari 20 negara anggota APO. Sementara di lingkungan ASEAN, produktivitas per pekerja Indonesia di peringkat keempat. Daya saing Indonesia di peringkat ke-36 di antara 137 negara. Sedangkan di lingkungan ASEAN, Indonesia berada di peringkat keempat dari sembilan negara ASEAN yang tercatat dalam The Global Competitiveness Report 2017-2018.

Memang, jika diperbandingkan dengan banyak negara lain, termasuk di lingkungan ASEAN, progres data tentang peringkat produktivitas dan daya saing Indonesia itu belum cukup memuaskan. Agar bisa menjadi pemain utama di kancah perekonomian global, produktivitas pekerja Indonesia harus terus dipacu. Kemenaker pun merekomendasikan agar kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia terus ditingkatkan. Inovasi, pemanfaatan teknologi, dan perbaikan manajemen menjadi faktor-faktor yang penting untuk terus dieksplorasi guna meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional.

Saat ini tantangannya adalah bagaimana menjaga keberlangsungan peningkatan grafik produktivitas pekerja Indonesia (sustainable productivity ) itu. Tentu saja syarat utamanya adalah terjaganya stabilitas nasional yang memungkinkan terwujudnya kegiatan produksi yang kondusif. Tentang stabilitas nasional dan kondusivitas ini, biarlah menjadi porsi pemerintah, Polri, dan TNI serta aparatur penegak hukum yang mengelolanya. Sedangkan pekerjaan meningkatkan produktivitas pekerja menjadi ranah para pemimpin perusahaan.

Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa produktivitas pekerja sangat ditentukan oleh kualitas kebijaksanaan manajemen perusahaan dalam memperlakukan karyawan atau para pekerjanya. Kualitas kebijakan itu tentu saja harus selalu berpijak pada prinsip keseimbangan. Dalam arti, mampu menyejahterakan pekerja dan mampu terus menumbuhkembangkan bisnis perusahaan sesuai dengan tantangan yang akan dihadapi pada tahun-tahun berikutnya.

Nilai Tambah

Informasi dan data mengenai peningkatan produktivitas pekerja Indonesia itu patut diapresiasi. Namun, gambaran tentang progres produktivitas itu sudah barang tentu menghadirkan pertanyaan tentang relevansinya dengan kesejahteraan pekerja Indonesia. Menjadi konsekuensi logis jika produktivitas naik, kesejahteraan pekerjaan pun idealnya membaik pula.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak