alexametrics

Menko Polhukam Minta Waspadai Aksi Provokasi

loading...
Serangan-serangan tersebut menurut dia terlihat memiliki pola target yang sama. Sasarannya adalah tokoh atau kelompok keagamaan. Menariknya, sejumlah penyerang yang berhasil diidentifikasi juga memiliki identitas tunggal, yaitu diduga sebagai orang gila.

”Kejadian-kejadian tadi jadi ada polanya sehingga jangan heran jika ada sebagian dari kita yang menduga bahwa saat ini sedang ada semacam upaya adu domba antarumat beragama di sini, apapun kepentingannya,” tandas politikus Partai Gerindra ini.

Isu agama, lanjutnya, adalah isu sensitif, sehingga aparat kepolisian harus bekerja cepat dan transparan agar tidak muncul spekulasi dan prasangka yang bisa memicu konflik di tengah masyarakat. Terlebih di tahun-tahun politik seperti sekarang.

Upaya-upaya yang mengarah pada adu domba, membentur-benturkan masyarakat, akan semakin banyak. ”Itu sebabnya pe merintah, dalam hal ini aparat keamanan, harus bisa mengantisipasi agar peristiwa serupa tak terulang lagi,” ujarnya. Dari sisi keamanan, rentetan tindak kekerasan ini merupakan tamparan bagi pemerintah. Ini menunjukkan pemerintah belum bisa memberikan jaminan rasa aman.

Padahal, ulama, santri, pendeta, dan jemaat gereja adalah warga negara yang berhak mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah. Apa lagi, pemerintah juga baru menyelenggarakan Musyawarah Besar Pemuka Agama dan Kerukunan Bangsa pekan lalu. ”Kenapa tiba-tiba bisa muncul kejadian seperti ini? Ini teguran bagi kedisiplinan pemerintah, khususnya aparat keamanan,” tandasnya.

Pengamat terorisme dari Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B Nahrawardaya mengatakan, di era generasi milenial ini masyarakat sudah semakin cerdas terhadap isu-isu yang berkembang, termasuk isu SARA.

Menurut dia, pada 2018- 2019, isu radikalisme hingga SARA masih akan terus dikembangkan di samping isu pemilu.

Selama ini, sebut Mustofa, isu teror tempat ibadah dan penyerangan aparat kepolisian masih bisa dipakai. Namun, yang akan datang di era milenial, semua orang sudah memegang smartphone. Dampaknya, informasi banyak bertaburan di media sosial sehingga masyarakat tidak mudah percaya narasi yang dilontarkan pemerintah.

”Orang-orang sudah memegang media sosial dan sudah tidak lagi bergantung pada informasi konvensional. Mereka bisa mencari dari sumber-sumber lain. Karena itu, trik tentang kekerasan terorisme itu pasti tidak akan mudah dipercayai karena polanya sudah bisa dihafal oleh generasi milenial ini,” ungkapnya. (Binti Mufarida)
(nfl)
halaman ke-2 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak