alexametrics

Menko Polhukam Minta Waspadai Aksi Provokasi

loading...
Menko Polhukam Minta Waspadai Aksi Provokasi
Menko Polhukam Minta Waspadai Aksi Provokasi. (Antara).
A+ A-
JAKARTA - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto meminta agar seluruh pihak mewaspadai isu-isu provokatif yang akhir-akhir ini cenderung meningkat, terutama isu yang mengarah pada suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Wiranto juga sudah menginstruksikan kepada aparat kepolisian untuk tetap menjaga keamanan secara ekstra, terutama saat ini sudah memasuki tahun politik.

”Tapi harapan saya agar media, masyarakat, sementara bersikap tenang tidak terganggu ikut meributkan. Mengapa? aparat keamanan diinstruksikan lebih waspada dalam rangka menjaga agar kerawanan pemilu atau pilkada bisa ditekan serendah-rendahnya sehingga pada saat hari H nanti, semuanya bisa berjalan dengan tertib dan aman,” tandas Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, kemarin.

Wiranto pun memastikan bahwa akan ada sanksi tegas kepada provokator yang memain kan isu-isu menyinggung SARA.

”Kami sudah instruksikan aparat keamanan untuk menindak tegas semua usaha yang membuat pemilu ini ternoda atau tidak aman. Ini enggak ada kompromi. Ini masalah kehormatan bangsa, masalah kemaslahatan kita bersama.

Enggak bisa main-main. Tunggu saja nanti hasil penyelidikan kepolisian agar dilaporkan kepada saya juga, tentu wartawan dapat informasi lebih lengkap,” ujarnya.

Senada diungkapkan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Fadli mengecam serentetan serangan terhadap tokoh keagamaan yang terjadi akhir-akhir ini.

Karena itu, dia mendesak Polri agar mengusut tuntas aksi-aksi brutal ter sebut, termasuk motif para pelaku. ”Aksi penyerangan terhadap jamaah dan pimpinan Misa di Gereja Lidwina Sleman, Yogyakarta, jelas melukai kita. Saya mengecam tindakan tak beradab tersebut. Tindakan itu sama sekali tak mencerminkan ajaran agama manapun,” tandasnya.

Namun di sisi lain, Fadli juga meminta agar masyarakat jeli menilai kejadian tersebut. Apalagi, kejadian serupa bukan pertama kali terjadi.

”Jangan sampai kita gampang menuduh seolah aksi terhadap kelompok A pastilah disebabkan kelompok B, atau sebaliknya, sebab saya mencium aroma adu domba antar kelompok di sini, baik antarkelompok yang berbeda agama, maupun antarkelompok dalam satu agama,” paparnya.

Jika ditarik lagi ke belakang, lanjut Fadli, sebelum peristiwa kekerasan di Gereja Lidwina, tercatat setidaknya ada empat serangan serupa yang kebetulan menimpa pemuka kalangan Islam dari ormas yang berbeda-beda.

Pertama, kekerasan terhadap KH Emron Umar Basyri, pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, seorang tokoh NU.

Kedua, serangan terhadap Ustad Prawoto, salah satu tokoh Persis (Persatuan Islam) yang akhirnya meninggal dunia.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top