alexametrics

Waspadai Adu Domba

loading...
Waspadai Adu Domba
Ilustrasi. Foto/SINDOphoto/Dok
A+ A-
PUBLIK Tanah Air kembali dikejutkan oleh serangan di Gereja Santa Lidwina Bedok, Jalan Jambon, Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kemarin.

Sekitar pukul 08.00 WIB pelaku penyerangan masuk gereja saat jemaat sedang menggelar acara misa. Kejadian itu mengakibatkan sejumlah orang terluka dan dilarikan ke rumah sakit, termasuk Romo Prier yang memimpin ibadah. Sementara pelaku berinisial S yang diidentifikasi sebagai mahasiswa ini akhirnya berhasil dilumpuhkan petugas dengan tembakan. Polisi masih mengusut motif penyerangan di tempat ibadah ini.

Kasus penyerangan terhadap pemuka agama bukan pertama kali terjadi. Sejak awal 2018 setidaknya sudah ada tiga serangan menimpa tokoh agama di sejumlah daerah. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri menjadi korban pertama yang diserang seseorang yang disebut mengalami gangguan jiwa seusai menunaikan salat di masjid pada Sabtu (27/1).

Berselang lima hari ustaz Prawoto, komandan brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), diserang seseorang yang juga diduga mengalami gangguan kejiwaan. Ustaz Prawoto bahkan meninggal dunia dalam serangan pada Kamis (1/2) di Cigondewah, Bandung Kulon, Kota Bandung, Jawa Barat itu.

Ketika kasus pertama yang menimpa KH Emon di Cicalengka terjadi, mungkin itu masih bisa diterima sebagai kejadian kriminal biasa yang pelakunya adalah orang yang memiliki gangguan jiwa. Namun, ketika kejadian ini mulai berseri, muncul kecurigaan bahwa ini didesain, terpola, dan terstruktur yang tujuannya ingin meng­ganggu kerukunan umat beragama di Tanah Air.

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Din Syamsudin mengutuk keras serangan di gereja di Sleman kemarin, apalagi kejadian ini terjadi tak lama setelah tokoh-tokoh agama menyelenggarakan musyawarah besar untuk kerukunan bangsa di Jakarta pada 8-10 Februari 2018.

Din menduga kejadian ini dikendalikan suatu skenario sistemik yang bertujuan menyebarkan rasa takut, keresahan, dan pertentangan antarumat beragama yang ujungnya adalah menciptakan insta­bilitas nasional.

Keprihatinan dan rasa duka mendalam disampaikan kepada seluruh pihak yang menjadi korban rentetan kebiadaban ini. Di sisi lain, sikap waspada juga sangat diperlukan untuk mencegah masyarakat jadi korban adu domba. Semua pihak harus kembali meneguhkan semangat persatuan dan kerukunan antarumat beragama yang selama ini sudah terjalin baik dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, masyarakat perlu menahan diri dan tidak terpancing serta terprovokasi oleh tindakan biadab para pelaku beserta pihak yang diduga menjadi otak dari rentetan peristiwa ini. Sikap saling mencurigai, saling menuduh tanpa disertai bukti seyogianya dihindari karena itu hanya akan makin memperkeruh suasana. Kejadian ini harus dilihat secara jernih. Bukan mustahil ini berkaitan dengan agenda politik pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan.

Kedua, aparat keamanan harus bertindak cepat, proporsional, dan profesional dalam menangani sejumlah kasus yang terjadi. Langkah yang dilakukan aparat keamanan sejauh ini dengan membekuk para pelaku penyerangan patut diapresiasi. Namun, karena kejadian ini berentetan, patut diduga juga ini bukan kriminalitas biasa.

Sangat mungkin ini terpola dengan tujuan menciptakan keresahan dan ketakutan di masyarakat. Aparat tidak cukup menangkap dan menghukum pelaku penyerangan, melainkan harus bisa mengungkap motif serta aktor intelektual yang menjadi dalang di baliknya. Kesigapan dan ketegasan aparat sangat dibutuhkan karena itu akan memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Ketiga, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) perlu melakukan langkah-langkah strategis untuk mencegah kejadian ini berulang. Kemenag perlu berkoordinasi intens dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) termasuk menyosialisasikan dan mengimplementasikan enam poin rumusan hasil Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa yang dihadiri 250 tokoh agama se-Indonesia pada Sabtu, 10 Februari 2018.

Langkah-langkah ini diperlukan demi menjaga dan merawat kerukunan beragama yang selama ini sudah terpelihara baik. Di tengah situasi seperti ini diperlukan semangat persatuan dan soliditas untuk bersama-sama melawan siapa pun pihak yang ingin menciptakan instabilitas keamanan di negeri tercinta ini.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak