alexametrics

Pilkada Serentak 2018

Gagal Mencalonkan Diri, Angkat Koper di Menit Terakhir

loading...
Gagal Mencalonkan Diri, Angkat Koper di Menit Terakhir
Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi gagal memperoleh dukungan partai politik dalam Pilkada Serentak 2018. FOTO/DOK.SINDONEWS.COM
A+ A-
PUPUS sudah harapan Tengku Erry Nuradi. Angannya untuk kembali memimpin di Tanah Batak harus kandas. Erry tidak bisa mengikuti Pilgub Sumatera Utara tahun ini. Meski berstatus sebagai petahana Gubernur Sumatera Utara, ternyata tak bisa jadi jaminan dirinya mendapat tiket untuk maju dalam Pilkada. Bahkan, elektabilitasnya yang disebut-sebut masih tinggi, juga tidak mampu menyelamatkannya dari jurang kegagalan. Erry harus gigit jari dan menerima kenyataan pahit dengan lapang hati.

Apa yang menimpanya itu datang beberapa hari sebelum pendaftaran peserta dibuka pada 8-10 Januari. Padahal, kala itu nama Erry masih intens mencuat sebagai bakal calon yang kembali maju. Di belakangnya muncul sederetan partai pendukung yang siap mengusungnya. Awalnya, ia didukung empat partai dengan total 28 kursi. Secara matematis, jumlah itu sudah pasti memenuhi persyaratan untuk mendaftar. Dukungan itu diperoleh dari Golkar dengan 17 kursi di DPRD Sumut, NasDem 5, PKB 3 dan PKPI 3 kursi. Boleh dibilang, saat itu Erry sangat percaya diri.

Toh, takdir berkata lain. Dalam hitungan hari, satu persatu parpol undur diri meninggalkan putra kelahiran Medan, 30 Juni 1964 itu. Kehilangan suara yang paling besar datang ketika Golkar menarik dukungan. Partai berlambang pohon beringin itu beralih mendukung pasangan yang diusung koalisi Gerindra, PKS, dan PAN, yaitu Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah. Dengan berat hati, Erry menerima nasibnya. "Ini adalah hal yang wajar dalam politik," ucapnya Senin (8/1/2018) pekan lalu.

Lantaran tak cukup syarat dukungan -minimal 20 kursi- peluang Erry maju sangat kecil. Ia pun mencoba peruntungan dengan datang ke Partai Demokrat. Jejak historis hubungan kakak Erry, almarhum Rizal Nurdin, dengan SBY menjadi modalnya. Sayang, hasilnya nihil. Demokrat mendukung jagoannya sendiri, Bupati Simalungun Jopinus Ramli (JR) Saragih.

Selang setelah Golkar, giliran PKPI yang menyusul undur diri. Partai berlambang kepala garuda merah putih itu bergabung membentuk koalisi dengan Demokrat. Selanjutnya, PKB juga ikut merapat ke Demokrat dan PKPI. Keduanya mengusung pasangan JR Saragih–Ance Selian. JR Saragih merupakan Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, sedangkan Ance adalah Ketua DPW PKB Sumut.

Kenapa seorang kepala daerah dengan elektabilitas cukup tinggi tidak mendapatkan dukungan partai politik untuk kembali maju dalam Pilkada? Simak laporan selengkapnya di Majalah SINDO Weekly Edisi 46/VI/2017 yang terbit Senin (15/01/2018).
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak