alexa snippet

Rektor Universitas Padjajaran Bandung

Komersialisasikan Riset untuk Kesejahteraan Masyarakat

Komersialisasikan Riset untuk Kesejahteraan Masyarakat
Komersialisasikan Riset untuk Kesejahteraan Masyarakat. (Foto Istimewa).
A+ A-
BANDUNG - Perguruan tinggi saat ini dituntut untuk memberikan nilai lebih kepada masyarakat. Zaman pun mengajukan tantangan serupa. Universitas Padjadjaran (Unpad) berupaya menjawab tantangan itu.

Di bawah kepemimpinan Rektor Tri Hanggono Achmad, Unpad menjawabnya dengan menjadi lembaga pendidikan tinggi berkonsep tranformative learning. Tri telah mengusung program komersialisasi riset dan akademik untuk kesejahteraan masyarakat. Sang rektor menjelaskan secara gamblang program tersebut dalam wawancara dengan KORAN SINDO beberapa hari lalu. Berikut petikan wawancara tersebut.

Unpad mendorong komersialisasi hasil riset untuk kesejahteraan masyarakat. Dapat Anda jelaskan apa maksudnya?
Sebetulnya begini. Itu dibahasa- Indonesiakannya tidak mudah. Pengertian sebenarnya enterprising. Enterprising itu apa kalau dibahasa- Indonesiakan? Sehingga orang cenderung memudahkannya berbicara tentang komersialisasi. Berbicara enterprising dalam hal ini adalah akademik.

Tidak semata-mata riset, karena proses akademik ini di perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan antara pendidikan, riset, dan public service (pengabdian kepada masyarakat). Kami menyebutnya sebagai academic enterprising. Itu lebih dari sekadar public service atau pengabdian kepada masyarakat. Kalau public service saja, apa yang kami miliki, kami berikan.

Sedangkan academic enterprising ada nilai tambahnya, baik itu pendidikan, pengajaran, maupun riset. Nah, kenapa dikaitkan dengan kesejahteraan masyarakat? Karena pada akhirnya sekarang semua yang dilakukan perguruan tinggi, saya kira berbagai pihaklah, harus sekuat mungkin memberikan maslahat. Maslahat itu kan masyarakat, baik masyarakat internal perguruan tinggi, maupun masyarakat luas.

Bagaimana program ini bisa dilaksanakan?
Itu tidak bisa dilakukan sendiri. Kita harus kerja sama, ada kolaborasi, melibatkan berbagai pihak. Yang namanya enterprise itu tidak sekadar komersial, berarti dagang, kan nggak gitu. Harus lihat kebutuhan, demand seperti apa. Kita bisa nilai dari yang kita miliki cocok untuk demand-nya apa nggak, yang pada akhirnya itu akan menjadi masukan juga untuk mengembangkan diri.

Ini konsep dasarnya. Sementara itu, di sisi lain, karena tuntutan perkembangan yang luar biasa, lalu semua pihak makin mengefisienkan, makin mendorong produktivitas, dan makin hati-hati, termasuk pemerintah, perguruan tinggi harus berjuang lebih keras.

Tidak bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah. Mendapat beasiswa, persaingan sudah semakin tinggi. Mendapatkan grant riset juga persaingannya semakin tinggi. Lalu kami ingin menghilirkan produk research. Industri juga makin hati-hati. Tak semata-mata semua produk perguruan tinggi itu mudah diserap.

Di sinilah sebetulnya kalau tidak mulai membuka diri, makin berat mendapat resource. Nah, enterprising ini sebetulnya bagian dari proses pendidikan yang sudah mulai transformative. Jadi program ini sesuai dengan visi misi saya untuk menjadikan Unpad sebagai transformative learning.

Mendorong transdicipline. Tidak hanya mendasarkan ilmu yang ada di perguruan tinggi, tapi bergerak dengan berbagai pihak, membangun strategi pentahelix, yakni antara akademik, bisnis (industri), government, masyarakat, dan media.

Sudah sejauh mana program enterprising riset dan akademik untuk kesejahteraan masyarakat itu dilaksanakan di Unpad?
Strategi dasarnya, pertama kita harus mampu memetakan kemampuan unggulan perguruan tinggi itu apa sebetulnya. Unpad berpegang kepada pola pokok ilmiah. Sekarang tantangan lingkungan itu luar biasa dan ini update sekali. Apalagi bicara tentang tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Lalu bicara hukum. Bukan hanya berbicara aspek norma, tapi juga implementasi dan empowering-nya.

Dua hal ini harus punya dampak terhadap pembangunan nasional. Dua hal ini kami dorong. Sehingga, lini depannya berbagai kapasitas akademik kami dorong, disinergikan ke sana. Lalu kami lihat peta kebutuhan nasionalnya. Jelas tadi kuat. Hanya karena dimensinya begitu luas, kami pun harus memilih.

Paling tidak lingkup terdekat. Kami berpikir Jawa Barat. Kenapa? Jawa Barat bukan berarti berhenti di Jawa Barat. Ini wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Nilai investasi besar. Tantangan masalah lingkungan, besar. Disparitas masalah juga luas.
halaman ke-1 dari 4
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top