alexa snippet

Asian Games dan Jiwa Kebangsaan Kita

Asian Games dan Jiwa Kebangsaan Kita
Indonesia terus melakukan persiapan sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
Dito Ariotedjo  
Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI)  

    
Kompetisi olahraga antarnegara sejatinya bukan saja sebagai ajang untuk unjuk kebolehan kemampuan teknis dan kekuatan fisik.

Namun lebih dari itu, pada aras lain kompetisi olahraga adalah ajang untuk membangun jiwa persatuan dan gairah kebangsaan bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan saja terbatas pada atlet-atlet yang berlaga.

Lihat saja penonton kompetisi bulu tangkis misalnya, baik di sisi lapangan maupun di balik layar kaca. Teriakan Indonesia benar-benar mengandung berjuta harapan bahwa kemenangan bukan saja berupa piala, tapi juga berbuahkan rasa bangga yang tak terperi yang melintasi seluruh pembuluh nadi anak negeri.  

Para pencinta bulu tangkis Tanah Air, dari balik kaca harap-harap cemas mengikuti liak-liuk pemain di lapangan, sembari tetap memantau pergerakan angka.

Harapan, gelora semangat keindonesiaan, semburan api cinta Tanah Air, bayang-bayang kibaran merah putih di atas bendera-bendera negara lain, bercampur aduk dan menyatu ke dalam satu adonan rasa cinta dan bangga sebagai anak negeri Ibu Pertiwi.

Bukankah hal semacam ini yang akan membuat kita sebagai anak negeri, apa pun latar belakangnya, apa pun asal generasinya, akan saling melupakan perbedaan dan saling membanggakan latar keanaknegerian kita?  Saya percaya, jawabannya adalah "ya" dan memang "ya".

Kompetisi olahraga adalah perang dalam makna yang sangat halus. Tatkala nasionalisme para pendahulu kita terbakar karena perang melawan kolonialisme dan imperialisme, kompetisi olahraga adalah perang era baru di mana senjata, ketakutan, dan kebencian terhadap lawan tak lagi dijadikan bahan mentahnya.

Kompetisi antarnegara dibangun atas landasan persahabatan, kasih sayang antarnegara, sportivitas, dan rasa bertanggung jawab kepada bangsa, pun rasa bertanggung jawab atas setiap event  keolahragaan yang dipertandingkan.   

Kemenangan yang didapat pun, bukan saja sebagai ganjaran atas kemenangan dalam adu tanding, tapi juga sebagai ganjaran atas keberhasilan dalam membangunkan jiwa-jiwa optimistis anak negeri yang sudah mulai skeptis dengan eksistensi negerinya sendiri bahwa Indonesia memang sudah selayaknya bersuara lantang di antara negara-negara lain dan merah putih sudah seharusnya berkibar bersama negara-negara lain dengan penuh bangga plus percaya diri.   

Soekarno sangat percaya bahwa kompetisi olahraga adalah bagian dari upaya membangun jiwa bangsa Indonesia. Oleh karena itu,  baru berselang empat tahun setelah merdeka, Soekarno berjuang keras dengan segala cara agar Asian Games keempat, 1962, diadakan di Indonesia.

Semua pihak ketika itu diminta untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan agar Indonesia layak menjadi tuan rumah. Berapa pun anggarannya, harus diperjuangkan, apa pun infrastrukturnya harus diadakan, demi terlaksananya Asian Games keempat pada 1962.  

Mengapa? Karena Soekarno pun percaya bahwa kompetisi olahraga antarnegara bukan sekadar kompetisi adu gengsi dan kemampuan teknis, tapi sebagai ajang yang punya tujuan jauh lebih besar dari itu, yakni tujuan nation building .
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top