alexa snippet

Perang Proxy di Lebanon (1)

Perang Proxy di Lebanon (1)
Dinna Wisnu PhD. Foto/Istimewa
A+ A-
Dinna Wisnu PhD
Pengamat Hubungan Internasional
@dinnawisnu
 
SEBERAPA besar keinginan rakyat Lebanon untuk damai tampaknya tidak cukup kuat untuk menahan pengaruh intervensi kepentingan negara lain. Gejala ini jelas terasa bersamaan dengan transisi yang terjadi di Arab Saudi, Suriah, serta hubungan dunia Arab dengan Amerika Serikat (AS). Tentu perlu kajian ilmiah lebih dalam untuk menyelidiki hubungan tersebut satu sama lain sehingga dalam kesempatan ini saya hanya mencoba menggambarkan fenomenanya.

Dalam bagian pertama minggu ini, saya mencoba meringkaskan hubungan antara Arab Saudi dan Lebanon serta bagian kedua akan meringkaskan hubungan antara Iran dan Lebanon. Kita mungkin heran mengetahui seorang perdana menteri dari sebuah negara berdaulat mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya saat berkunjung ke negara lain. Ini bukan peristiwa langka, melainkan terjadi di Arab Saudi seminggu lalu.

Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri mengumumkan undur dari jabatannya sebagai perdana menteri di Arab Saudi dengan alasan menjadi sasaran percobaan pembunuhan dari Iran. Dia juga menyatakan alasan pengunduran dirinya karena intervensi Iran di negara-negara Arab seperti Irak, Suriah, Bahrain, dan Yaman. Intinya bahwa pengunduran diri itu memecah kembali koalisi yang terjadi Lebanon sejak terbentuknya pemerintahan yang dianggap relatif stabil sejak 2016.

Peristiwa pengunduran diri Hariri ini menarik karena terjadi bersamaan dengan proses konsolidasi di Arab Saudi dan mulai berkurangnya pengaruh ISIS di wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Pengaruh ISIS yang berkurang juga memberikan makna potensi menguatnya pengaruh Iran di beberapa kawasan.

Apabila kita melihat sepak terjang Arab Saudi yang cukup keras (seperti kepada Qatar) beberapa tahun terakhir, kita mungkin akan melihat kawasan Timur Tengah yang memanas. Harapan bahwa dengan berkurangnya kekuatan ISIS juga akan berkurang konflik di Timur Tengah bisa jadi hanya tinggal harapan.

Lebanon sendiri adalah sebuah negara yang baru setahun belakangan ini menikmati kedamaian. Konflik tampaknya tak pernah benar-benar hilang dari negara ini.

Hal ini mungkin disebabkan Lebanon secara geografis berbatasan langsung di bagian utara dan timur dengan Suriah, sementara wilayah selatan dengan Israel. Pengaruh Syiah sangat dominan di Lebanon terutama yang berasal dari Organisasi Hizbullah.

Pengaruh Hizbullah di Lebanon dapat dikatakan seperti negara dalam negara. Mereka tidak menjelma menjadi negara karena alasan praktis, karena bila itu terjadi dikhawatirkan dukungan dunia terhadap Lebanon yang disimbolkan sebagai negara dengan multiagama dan multietnis akan berkurang.

Simbol multietnis dan agama itu penting bagi Lebanon karena sejak mereka merdeka dari jajahan Prancis, perseteruan antara kekuatan dari agama tertentu dan yang lain tidak pernah berhenti. Perseteruan itu sendiri akhirnya mengundang intervensi dari negara-negara sekitar yang juga masih berkonflik, terutama antara pengaruh dari Israel, Arab Saudi (Sunni), dan Iran (Syiah).

Meski demikian, masyarakat Lebanon pada satu titik juga menginginkan perdamaian sehingga mereka menyepakati pembagian kekuasaan yang dianggap cukup representatif. Beberapa jabatan penting dan tinggi diperuntukkan bagi anggota kelompok agama tertentu.

Presiden, misalnya, harus dari kalangan Kristen Maronite, perdana menteri dari kalangan Muslim Sunni, ketua parlemen dari kalangan Muslim Syiah, wakil perdana menteri dan wakil ketua parlemen dari kalangan Ortodoks Timur. Sistem ini dimaksudkan untuk mencegah konflik sektarian dan upaya untuk mewakili distribusi demografis yang adil dari 18 kelompok agama yang diakui di pemerintahan.
 
Peran Arab Saudi
Faktor keluarga Kerajaan Arab Saudi tentu sangat terkait dalam peristiwa ini karena pengunduran diri PM Saad Hariri dilakukan di sana. Kerajaan Arab Saudi yang sebetulnya saat ini de facto dipimpin Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) memiliki sikap politik yang lebih agresif dibandingkan ayahnya. Hal ini terlihat dalam aksi di Yaman, pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar, dukungan terhadap oposisi di Suriah, dan yang menarik adalah kedekatan rahasia dengan Israel meski tidak memiliki hubungan diplomatik.

Hampir keseluruhan intervensi yang dilakukan Arab Saudi adalah untuk mencegah meluasnya pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah. Rasa khawatir ini semakin kuat seiring dengan dicapainya kesepakatan perjanjian damai nuklir 5P+1 yang memulai terbukanya ekonomi Iran bagi pasar dan investor internasional.

Oleh sebab itu, Raja Salman cukup bergembira ketika Presiden AS Donald Trump tidak mengesahkan sertifikasi yang diwajibkan oleh kesepakatan tersebut, meskipun masih belum 100% yakin karena pada masa kampanye, Trump mendukung Iran dalam melawan ISIS.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top