alexametrics

Opini

Kualat dan Simbolisasi Kamadhatu

loading...
Kualat dan Simbolisasi Kamadhatu
Mohamad Sobary, Budayawan. Foto/Dok SINDO
A+ A-
Mohamad Sobary
Budayawan

SEPULUH
pelukis Indonesia --Wahyu Oeman, Vukar Lodak, Afriani, Derson Madjiah, Eko Banding, Kamto Sukamto, Sujud SR, Handoyo JJ, Chrisnanda Dwilaksana, dan S Dartha-- menyelenggarakan pameran lukisan bersama di Balai Budaya Jakarta. Sepuluh karya lukis dipamerkan di sana selama seminggu, 13-20 November 2017. Para pelukis memilih tema "Kualat" dan masing-masing mencoba memberikan penjelasan makna "kualat" tersebut. Beberapa menampilkan makna itu dalam lukisan masing-masing yang menyentuh rasa haru kita.



Di dalam berbagai tradisi yang masih berlaku di masyarakat Nusantara ini, kualat bisa terjadi karena seseorang melakukan pelanggaran adat. Mungkin melanggar etika, mungkin melanggar aturan, mungkin melanggar sesuatu yang sakral, dan mungkin bahkan melakukan pelanggaran yang lebih berat lagi. Jika minta maaf, mungkin ada mekanisme penghapusan akibat buruk dari pelanggaran itu sehingga yang bersangkutan tak mengalami sesuatu apa pun.

Mungkin si pelanggar minta maaf secara adat disaksikan sejumlah warga masyarakat dan kepala adat. Permintaan maaf biasanya dilakukan dalam suatu ritual suci yang khusuk dan mendalam. Biasanya ada syarat-syarat adat yang harus dipenuhi.

Mungkin ada pula sajen (sesaji) yang merupakan simbol penghubung antara yang profan dengan yang sakral, yang duniawi dan yang surgawi, dan yang manusiawi dengan yang ilahi. Syarat bisa beraneka macam dan tidak sama antara syarat di suatu masyarakat dengan di masyarakat lain. Tapi syarat adalah syarat. Tidak bisa syarat itu ditiadakan.

Dan kepala adatlah yang bisa berhubungan secara spiritual dengan dunia lain untuk memintakan maaf bagi warganya yang salah. Tapi bila yang bersangkutan tak peduli, mungkin malah menampakkan sikap sombong, kualat itu akan terjadi dalam berbagai bentuk kesulitan atau penyakit yang hanya bisa diobati dengan cara meminta maaf. Tapi mungkin tidak ada dalil yang memberi jaminan bahwa permintaan maafnya akan dikabulkan.

Ada pula kualat yang terjadi karena mekanisme rohaniah yang lain lagi. Di sini kualat berhubungan dengan mantra dan kutukan. Mantra sendiri barangkali tak akan menjadi penghalang bagi pihak lain kalau mantra tak dimaksudkan sebagai kekuatan kutukan kepada suatu pihak yang dianggap salah. Kutukan bisa juga terwujud dalam bentuk balas dendam. Orang juga bilang dendam kusumat. Versi lain menyebut dendam tujuh turunan yang kedengarannya saja sudah begitu menakutkan.
halaman ke-1 dari 3
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak