alexa snippet

Setnov Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional di Probolinggo

Setnov Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional di Probolinggo
Ketua DPR Setya Novanto memberi sambutan saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani, Minggu (22/10/2017). Setnov terlihat mengenakan kopiah dan sarung, ciri khas warga Nahdiyin. Foto/Dok. DPR
A+ A-
PROBOLINGGO - Setelah menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam lebih dari Kabupaten Malang, Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dan rombongan tiba di Kabupaten Probolinggo untuk menghadiri peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani, Minggu (22/10/2017) sore. Setnov terlihat mengenakan kopiah dan sarung, ciri khas warga Nahdiyin. Ia juga mendapatkan sorban tanda kehormatan dari pengasuh pondok pesantren KH Hafid Aminuddin.

“Kehadiran saya di sini tidak semata karena kedudukan sebagai Ketua DPR, tetapi juga karena saya warga Nahdiyin. Beberapa bulan lalu saya mendapat kehormatan menerima Kartu Tanda Anggota NU yang diberikan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj, sehingga sejak saat itu saya resmi menjadi warga Nahdiyin. Oleh karena itu, saya ingin selalu dekat dengan para ulama dan santri, seperti pada hari ini,” kata Setnov dalam sambutannya.

Setnov datang bersama Bupati Probolinggo Puput Tantriana, Ketua Komisi II DPR RI Bapak Zainudin Amali, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Bapak Roem Kono, Wakil Ketua Komisi VII Bapak Satya Yudha, Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan yang juga Anggota Komisi III DPR RI Bapak Adies Kadir, Anggota Komisi XI DPR RI Bapak Misbakhun, Anggota Komisi VII Ibu Eni M Saragih, Anggota Komisi VIII Bapak Hasan Aminuddin, serta Staff Khusus Ketua DPR RI Bapak Yahya Zaini.

Menurut Setnov, peran kyai dan santri dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan mendapat tempat yang terhormat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, DPR RI mendukung Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

“Kebijakan tersebut merupakan hadiah terindah dari Presiden Joko Widodo yang akan dikenang sepanjang masa oleh warga Nahdiyin,” ujarnya.
 
Pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari, yang saat itu sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945.

“Tanpa Resolusi Jihad NU tersebut, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang diperingati sebagai Hari Pahlawan. Saya sangat bangga menjadi warga NU,” jelasnya.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top