alexa snippet

Sun Life Edufair 2017

Di Pameran Ini Orang Tua Bisa Merencanakan Pendidikan Anak

Di Pameran Ini Orang Tua Bisa Merencanakan Pendidikan Anak
(Kiri-kanan) Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia Elin Waty, Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Kemendikbud Wowon
A+ A-
JAKARTA - Bagaimana orang tua bisa menyiapkan bekal untuk anak-anak mereka secara lebih baik? Salah satu bekal utama yang harus dipersiapkan tentu saja pendidikan. Namun, tidak semua orang mampu memberi bekal tersebut secara maksimal karena kendala dana.

Persoalan ini yang ingin dipecahkan PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) bekerja sama dengan KORAN SINDO dan SINDOnews lewat Sun Life Edufair 2017. Dalam pameran edukatif tahunan tersebut, masyarakat bisa mendapatkan informasi komprehensif seputar kebutuhan pendidikan anak, termasuk membantu para orang tua Indonesia dalam perencanaan pendidikan anak-anak mereka.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Elin Waty mengatakan, Sun Life Edufair 2017 merupakan bentuk komitmen untuk membangun generasi Indonesia yang lebih baik. "Kami sebagai pelaku industri sangat senang bisa membantu dalam perencanaan keuangan, karena di sini kami melihat ada dinamika baru dan harus diantisipasi orang tua karena besarnya dana pendidikan yang kian membesar," katanya dalam acara Sun Life Edufair 2017 yang digelar di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (20/10/2017).

Elin memahami keluarga Indonesia menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama karena merupakan langkah awal dalam meraih kesuksesan anak. Nah, dengan pemahaman perencanaan keuangan, orang tua akan mampu memanajemen keuangan secara matang, termasuk untuk pengalokasian dana pendidikan.

Sebagai pelaku industri yang memiliki pengalaman panjang, pihaknya melihat ada dinamika baru dalam dunia pendidikan. Adanya perubahan ini harus diantisipasi oleh orang tua karena berimplikasi pada dana pendidikan. Karena itu, Elin kembali menekankan pentingnya orang tua memahami tentang rencana pendidikan anak, salah satunya mengenai pentingnya asuransi. Sayangnya, tingkat penetrasi asuransi pendidikan masih rendah.

"Oleh karena itu diperlukan edukasi seperti yang digelar di Edufair ini untuk perencanaan pendidikan anak. Orang tua bisa konsultasi dengan ahli perencanaan keuangan untuk menyiapkan rencana jangka panjang," terangnya.

(Lihat keseruannya di sini: Pengunjung Padati Gelaran Sun Life Edufair 2017 di Mal Kota Kasablanka)
(Atau di sini: 25 Sekolah Terbaik di Jabotabek Bertemu di Sun Life Edufair 2017)
(Lihat juga di sini: Sun Life Edufair 2017 Resmi Dibuka)

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise sangat mendukung perencanaan pendidikan anak yang baik sejak dini. Termasuk di dalamnya perencanaan keuangan untuk pendidikan anak ke depan. Selain itu, setelah konvensi hak anak ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo, maka pemerintah juga berkomitmen untuk melindungi anak dari kekerasan, termasuk kekerasan yang terjadi di sekolah.

"Baik itu kekerasan fisik maupun psikis," imbuhnya. Karena itu, pemerintah berkepentingan untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak. Namun, tentu saja, hal ini tak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah tetapi perlu kerja sama dengan semua masyarakat. Untuk itu, Yohana mengajak para guru untuk bisa menjadikan sekolah sebagai tempat yang ramah anak.

"Hal ini akan terus kami kampanyekan terus menerus karena sampai saat ini masih banyak juga guru-guru kita yang belum tahu tentang perlindungan anak. Apalagi, di rumah juga masih sering terjadi kekerasan terhadap anak. Karena itu, kita sangat mendukung upaya literasi kepada masyarakat, tidak hanya mengenai literasi keuangan tetapi juga menyangkut hak anak dan kekerasan terhadap anak," paparnya.

Deputi Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito mengatakan, OJK mendorong acara seperti ini mengingat tingkat pemahaman masyarakat Indonesia tentang keuangan masih rendah. Dia mengungkapkan hanya 29,7% masyarakat yang terliterasi dengan baik. Padahal, ada 67,8% masyarakat Indonesia yang menggunakan produk dan layanan keuangan.

"Ini yang sering kali karena tidak paham maka ketipu sama yang investasi bodong," jelasnya. Untuk menggerakkan literasi keuangan sejak dini, katanya, OJK sudah bekerja sama dengan Kemendikbud, salah satunya melalui penyusunan buku yang sudah dibagikan ke sekolah-sekolah.

Dia menjelaskan, jika tidak paham jasa keuangan sejak dini maka risikonya sangat besar, terutama ibu dan anak harus memahami mengalokasikan pendapatan suami dan istrinya agar keuangan keluarga produktif untuk anak dan generasi selanjutnya. Sosialisasi secara masif akan dilakukan agar tidak ada lagi masyarakat yang tertipu jasa investasi palsu.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top