alexametrics

Pancasila di Dalam Diri Kita

loading...
Pancasila di Dalam Diri Kita
Mohamad Sobary.Foto/Dok/SINDOnews
A+ A-
Mohamad Sobary  
Budayawan

KALAU kita berbicara mengenai Pancasila sebagai ideologi negara, kita merasa Pancasila itu begitu abstrak, jauh, dan samar-samar seperti antara ada dan tidak ada. Meski begitu secara normatif-idiil kita wajib menyebutnya ada dan kita tahu adanya tertelak di dalam kesadaran dan citarasa atau gambaran mengenai hidup yang kita dambakan. Apa yang kita damba bukan realitas atau belum menjadi realitas sosiologis. Mungkin dia itu wujud dari realitas ideologis. Ini gambaran dari realitas yang sedang dengan susah payah kita perjuangkan.



Dalam konteks nasional, di mata negara, Pancasila itu tampak nyata pada daftar lima urutan struktural yang kita kenal mulai dari ketuhanan hingga keadilan sosial. Kelimanya  merupakan wujud kesadaran tentang makna kata per kata dari lima sila tadi. Sila yang telah mengamalkannya di dalam konteks kenegaraan hingga terwujud suatu tatanan negara yang begitu agung? Jawabannya mungkin belum ada dan kita mungkin tidak tahu mengapa.

Kalau pada dewasa ini kita mengamati tingkah laku politik para pejabat negara, kita kecewa karena banyaknya proyek besar yang dilaksanakan pemerintah begitu banyak yang menyimpang. Kita menjadi lebih kecewa begitu mengetahui apa yang menyimpang itu di dalamnya ada campur tangan memalukan dari kalangan DPR yang -secara idiil- seharusnya memanggul kewajiban mengawasi agar penyimpangan tak terjadi.

Di tingkat negara, di kalangan para pejabat yang diharapkan menjadi contoh kesungguhan mewujudkan terciptanya lima sila tadi ke dalam tata kehidupan sehari-hari, kelihatannya kita tak menemukan apa-apa. Contoh teladan laku dari orang-orang berpangkat tinggi malah tidak ada. Sedikit pejabat tinggi yang baik, dengan niat dan tingkah laku baik, untuk memberi contoh orang-orang di sekitarnya, hampir mutlak tak berlaku. Ibarat tanaman, buahnya tidak ada dan pengaruh sosial-politiknya tak terasa.

Mungkin kita tak bisa menyebutkan bahwa sumbernya Orde Baru dan segenap keburukan wajah petinggi negara kita muncul dari sana. Tidak bisa. Tapi Orde Baru memanggul tanggung jawab besar terhadap kerusakan negeri ini karena dulu mereka  gila-gilaan mencuri kekayaan rakyat buat diri mereka sendiri. Tanggungjawab ke dua, mereka begitu munafik menyalah gunakan Pancasila untuk kemuliaan diri mereka sendiri dan tak peduli kehancuran menyeluruh dan sangat mendalam terjadi pada kita sekarang.

Para perusak di zaman Orde Baru dulu juga sekarang berteriak reformasi, penegakan hukum, demokrasi, dan Pancasila. Mungkin kita gerah melihat mereka tampil seperti para malaikat surga yang tak tersentuh dosa. Ketika Presiden Jokowi dan orang-orang pilihannya hendak menata kehidupan negara secara tulus dan penuh semangat keadilan, kita bersemangat sekali untuk mendukung. Tapi bagaimana ketulusan politik itu bisa dijaga kemurniannya kalau di dalamnya begitu banyak orang culas yang pura-pura membantu, tapi sebenarnya menjegal dan berusaha sekuat tenaga menggagalkannya?
halaman ke-1 dari 3
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak