alexa snippet

Otak-atik Inflasi

Otak-atik Inflasi
Candra Fajri Ananda. Foto/Istimewa
A+ A-
Candra Fajri Ananda
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
 
PARADOKS mengenai penurunan daya beli masyarakat belum juga menemui titik kesempatan. Pemerintah masih bersikukuh bahwa penurunan daya beli tak ubahnya sebatas penggiringan isu politik.

Pemerintah menggunakan tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebagai alat justifikasi. Memang jika merujuk pada data BPS (2017), konsumsi rumah tangga dalam kuartal I dan II 2017 masih berjalan positif.

Tingkat pertumbuhannya masing-masing mencapai 4,94% dan 4,95% (yoy). Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016, justru tampak adanya kecenderungan sedang demosi (perlambatan).

Tahun lalu kita masih mendapat tingkat pertumbuhan 4,97% pada kuartal I dan 5,07% pada kuartal II. Kemudian sekarang angkanya mengecil.

Lalu jika dikaitkan dengan catatan inflasi yang akhir-akhir ini selalu rendah, apakah masih cukup layak bagi pemerintah (dan Bank Indonesia) untuk mengklaim bahwa inflasi menunjukkan kesuksesan mereka dalam pengendalian harga? Mungkin secara parsial (hanya inflasi) bisa saja benar.

Tapi secara kausalitas antara inflasi dan daya beli masyarakat atau indikator makroekonomi lainnya sepertinya perlu diperiksa lagi dengan cara yang lebih teliti. Pertanyaan ini rupa-rupanya cukup menarik untuk kita kuliti lebih mendalam. Apalagi selama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), tingkat inflasi yang rendah tampaknya tidak juga berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Hal ini dibuktikan setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selama inflasi berada di bawah 4%, produk domestik bruto (PDB) kita tidak pernah lagi tumbuh di atas 5%. Kemudian timbul pertanyaan di mana manfaat dari kondisi inflasi yang rendah ini? Jawaban atas pertanyaan seperti inilah yang perlu kita gali.

Mari kita coba analisis dengan pendekatan teoretis. Secara normatif, ada dua asumsi mainstream yang sering digunakan untuk menjelaskan tingkat inflasi, yakni asumsi demand pull inflation dan cost push inflation.

Kedua asumsi menggambarkan bagaimana mekanisme tarik ulur pasar supply-demand berjalan dan dampaknya terhadap pergerakan inflasi. Berdasarkan dua paradigma tersebut, tingkat inflasi yang tinggi biasanya didorong kondisi tingkat permintaan yang berlebih (excess demand) dan/atau karena terjadi kelangkaan pasokan (lack of supply).

Berhubung kondisi inflasi kita sedang rendah, asumsi yang tadi kita gunakan otomatis perlu kita putar 180 derajat. Dengan demikian jika kita interpretasikan lagi, situasi pasar akan terdikotomi pada dua pilihan, apakah sedang terjadi penurunan permintaan (decrease in demand) atau karena terjadi kelebihan pasokan (excess supply).

PDB berbasis pengeluaran bisa kita gunakan sebagai bahan refleksi bagaimana kondisi permintaan barang/jasa domestik. Tren pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I dan II selama 2015-2017 cenderung terus mengalami kontraksi.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga (yoy) pada triwulan II 2017 mengalami kontraksi 0,12% jika dibandingkan dengan kondisi pada triwulan II 2016. Bahkan jika pertumbuhan triwulan II 2017 kita komparasikan dengan periode yang sama pada 2015, hasilnya masih juga terjadi kontraksi 0,02%.

Yang lebih mengkhawatirkan, subsektor konsumsi makanan dan minuman (selain restoran) turut mengalami kontraksi yang lumayan besar hingga mencapai 0,38% (triwulan II 2017 terhadap triwulan II 2015). Padahal keberadaan subsektor ini sangat penting.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top