alexa snippet

ASEAN dan Konflik Rohingya

ASEAN dan Konflik Rohingya
Edy Purwo Saputro. Foto/Ist
A+ A-
DR Edy Purwo Saputro, SE, MS
Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

ISU konflik Rohingya telah menyita perhatian dunia, selain kasus peluncuran rudal oleh Korut. Oleh karena itu, situasi ini jelas berdampak sistemik terhadap iklim sospol, tidak hanya di ASEAN, tetapi juga global.

Ketegangan memicu riak konflik adalah bagian dari konsekuensi globalisasi karena memang ada banyak kepentingan yang mendasari.

Perkembangan ASEAN tidak bisa terlepas dari problem konflik yang muncul, baik secara bilateral atau multilateral. Tentu ini menjadi sesuatu yang wajar karena ASEAN bersifat dinamis mengikuti perkembang an global dan masing-masing anggotanya juga bersinergi dengan berbagai pakta perjanjian bilateral-multilateral lainnya. Hal ini menjadi muara dari akar konflik, meskipun di sisi lain, aspek kemanfaatannya tidak bisa diabaikan.

Dari argumen ini maka kasus Rohingya menjadi muara jika ke depan, setelah 50 tahun ASEAN, berharap bisa mereduksi konflik dan merajut asa demi memacu kesejahteraan bersama.

Tentu tidak mudah untuk bisa meraih harapan tersebut. Paling tidak sejumlah konflik yang ada sampai 50 tahun ASEAN menjadi bukti. Bahkan, masih ada dua negara di kawasan Asia Tenggara yang belum bergabung dengan ASEAN, yaitu Timor Leste dan Papua Nugini, yang masing-masing telah menjajaki untuk masuk ke ASEAN.

Timor Leste dirasa lebih siap bergabung karena pada 4 Maret 2011 karena telah mengajukan formal aplikasi ketika Indonesia menjadi tuan rumah ASEAN 2011.

Sejumlah negara misalnya, AS, Jepang, dan Australia, telah mendukung keanggotaan Timor Leste untuk masuk ASEAN. Bahkan, saat KTT ke-18 ASEAN pada 7-8 Mei 2011 di Jakarta, ditegaskan bahwa masuknya Timor Leste hanya menunggu waktu.

Kecemasan

Keanggotaan Timor Leste masuk ASEAN terkait dengan ketentuan yang menjadi pijakan, yaitu politik dan keamanan, pilar ekonomi, serta pilar sosial budaya. Sebagai negara yang merdeka pada 20 Mei 2002 hasil dari jajak pendapat pada Agustus 1999 dan bagian dari daerah Indonesia sebenarnya ada banyak potensi dari Timor Leste.

Proses panjang dari masuknya Timor Leste mengacu argumen yang mendasari, yaitu ASEAN Charter pada 15 Desember 2008 Pasal 6 yang menyebutkan bahwa penerimaan keang gotaan baru ASEAN harus memenuhi kriteria letak geografis suatu negara diakui berada di wilayah Asia Tenggara.

Jalan panjang Timor Leste masuk ASEAN te - lah dimulai sejak 4 Maret 2011 ketika Indonesia menjadi ketua ASEAN. Selain persoalan keanggotaan Timor Leste, fakta lain yang tidak bisa diabaikan adalah keterlibatan ASEAN+3, yaitu dengan mitra dialog Jepang, China, dan Korsel.

Argumen yang mendasari ASEAN+3 karena Jepang, yaitu negara dengan kekuatan industri, China ke kuatan ekonomi baru dunia, dan Korsel dianggap sebagai negara industri yang memiliki potensi kuat. Keterlibatan ASEAN+3 mengacu komitmen untuk memacu stimulus ekonomi.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top