alexa snippet

Mahasiswi UNY Berhasil Olah Urine Kelinci Jadi Pupuk Cair Organik

Mahasiswi UNY Berhasil Olah Urine Kelinci Jadi Pupuk Cair Organik
Dwi Lestari menuangkan pupuk cair organik dari urine kelinci buatannya ke dalam jerigen saat KKN Sidatan, Kalidengen, Temon, Kulonprogo, DIY. Mahasiswi UNY ini berhasil meneliti cara mengolah urine kelinci menjadi pupuk cair organik. Foto Ist
A+ A-
YOGYAKARTA - Para peternak kelinci, biasanya hanya memelihara hewan tersebut untuk dijual, baik yang sudah dewasa untuk dikonsumsi maupun anakan kelinci untuk bibit.  Padahal selain dagingnya, sebenarnya ada manfaat lain dari kelinci, yakni urinenya bisa dijadikan pupuk cair organik.

Kalaupun ada juga yang menjual urine kelinci, namun hanya mentahan. Padahal jika urine kelinci diolah menjadi pupuk cair organik bukan hanya mempunyai nilai ekonomis tetapi juga dapat meningkatkan hasil pertanian, termasuk menjaga kesuburan tanah.

Hal inilah yang mendorong mahasiswi program studi (Prodi) Kimia, Fakultas MIPA, Universtas Negeri Yogyakarta (UNY) Dwi Lestari melakukan penelitian tentang bagaimana mengolah urine kelinci menjadi pupuk cair organik.

Penelitian ini berawal saat melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Sidatan, Kalidengen, Temon, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 10 Agustus-9 September lalu. Saat KKN itu, ia melihat warga Dusun Sidatan yang beternak kelinci belum memanfaatkan urine hewan piarannya secara maksimal. Mereka hanya menjualnya secara mentah, dengan harga Rp1.000 per liter. Padahal jika diolah menjadi pupuk seperempat liter harganya Rp10.000.

“Dari situ saya membandingkan urine kelinci dengan urine sapi dan manusia. Hasilnya kandungan nitrogen, fosfor dan kalium urine kelinci lebih tinggi dibandingkan urine lainnya. Saya kemudian mencari literatur untuk pengolahan urine kelinci menjadi pupuk cair organik,” kata mahasiswa UNY angkatan 2014 itu di kampus UNY, Rabu (13/9/2017).

Berbekal dari literatur ditunjang dengan prodi yang sekarang ia geluti, Dwi dapat menformalisasikan urine kelinci diolah menjadi pupuk cair organik yang ramah  lingkungan dan yang tidak kalah dengan pupuk pabrikan. Termasuk dapat menyuburkan tanah dan tanaman dan tentu saja akan meningkatkan produksi pertanian.

Dwi Lestari menjelaskan bahan untuk membuat pupuk cair organik, yaitu 1,5 liter urine kelinci, satu sendok makam effective microorganism (EM) 4 dan seperempat batang gula merah yang dicairkan. EM4 merupakan campuran beberapa mikroorganisme hidup yang menguntungkan bagi proses penyerapan unsur hara dalam tanah.

Cara membuatnya, urine kelinci yang sudah dicampur dengan EM4 dan gula merah yang sudah dicarikan dituangkan dalam jerigen berkapasitas 5 liter. Bahan yang sudah tercampur itu kemudian diaduk dengan rata.

Setelah itu didiamkan di tempat teduh selama 7-8 hari. Sesekali jerigen dibuka untuk membuang gas fermentasi. Setelah itu pupuk cair organik dari urine kelinci sudah bisa digunakan.

“Pemakaiannya, dengan mencampurkan 0,5 liter larutan urine kelinci yang sudah diolah itu dengan air 10 liter. Setelah itu bisa disemprotkan ke tanaman,” paparnya.

Dari laporan warga Sidatan yang sudah mencoba pupuk cair organik dari urine kelinci itu pada tanaman cabai, menunjukkan tanaman cabai itu terlibat subur dalam waktu 7 hari. Ini menunjukkan pupuk cair ini sangat bagus untuk tanaman serta kesuburan tanah. Termasuk diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian.

“Bukan itu saja. Yang jelas dengan pupuk cair organik dari urine kelinci ini juga dapat menambah penghasilan warga,” ungkapnya.

Sugiarti Merintika, mahasiswa Prodi Pendidikan Sosilogi UNY teman KKN Dwi Lestari menambahkan, karena pembuatan olahan pupuk organik dari urine kelinci ini cukup mudah dan dapat dipraktikan sendiri di rumah tanpa memerlukan teknologi dan modal yang mahal. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani.
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top