alexametrics

Empu Berkisah dalam Lagu

loading...
Empu Berkisah dalam Lagu
Budayawan Mohamad Sobary. Foto/Istimewa
A+ A-
Mohamad Sobary
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.
Email: dandanggula@hotmail.com



SAMPAI hari ini, kelihatannya belum ada suatu karya besar mengenai orang besar yang bisa melebihi kebesaran orang besar itu sendiri. Puisi, novel, drama, film, atau biografi intelektual dan sejarah yang ditulis berdasarkan kehidupan seorang tokoh besar, masing-masing memang bisa menjadi suatu karya monumental, dengan sanjungan “the most celebrated work” oleh berbagai media, oleh para ahli. Tapi karya seperti itu jarang–mungkin bahkan tak pernah–bisa melebihi kebesaran tokoh besar tersebut. Mungkin ini tergolong persoalan rumit yang tak mudah dijelaskan mengapa. Bila kita bertanya pada Abah Iwan, mungkin Abah akan cenderung memilih berkidung khusyuk dan lembut, “Jawabnya tertiup di angin lalu”. Kemudian alam pun mungkin senyap, sambil merasa sedikit malu, karena seperti kita, alam pun boleh jadi tak punya jawabnya.

Arie Malangyudo–Bung Arie–mungkin tak perlu merasa kecewa atau berkecil hati bila karyanya ini–sepenting apa pun dilihat dari sejarah seni musik dan lagu-lagu Abah Iwan– juga saya tempatkan dalam posisi yang tak bisa melebihi “karomah” tokoh yang ditulisnya, yaitu Abah, di mata para pemujanya. Saya tidak tahu asal-muasal datangnya gagasan menulis karya mengenai Abah, tapi saya dapat merasakan pentingnya karya ini di masyarakat penikmat seni. Mereka yang sejak dulu sudah menikmati lirik dan lagu-lagu Abah, kini tiba-tiba akan tahu secara detil–dari buku ini–bagaimana sebuah lagu disusun, dalam situasi macam apa, pada saat Abah umur berapa, oleh rangsangan kreatif macam apa, kapan, dan di mana. Genealogi tiap lagu yang bisa dibaca kembali di dalam buku ini akan memperkaya para penikmat, para ahli, dan para kritikus seni, yang kemudian menjadi lebih paham tentang tokoh yang dipujanya. Kecuali itu pemujaannya–meskipun tanpa dupa menyala, tanpa kembang berwarna-warni–mungkin akan menjadi lebih dalam, lebih dalam, dengan perspektif lebih luas, seperti samudra yang misterius: di mana “batas langit jalanidi” (di mana batas langit dan lautan), yang menjadi suluk para dalang, yang berusaha mengungkap persoalan pelik yang akan tetap pelik selamanya.



Para penikmat seni akan memperoleh referensi tentang ini dan itu secara komprehensif dan bisa berkata bahwa dia mengenal Abah secara dekat, luar dan dalam. Para kritikus seni akan bisa membikin suatu tinjauan mengenai Abah dengan bahan-bahan yang bisa dipertanggungjawabkan. Memuja atau mencerca, mereka punya bahan yang menjadi dasar argumen karyanya. Orang–pendeknya–mungkin lalu bisa menjadi seolah lebih tahu mengenai Abah daripada Abah sendiri. Pemuja remaja 1970-an hingga 1980-an, sesudah membaca buku Bung Arie ini, mungkin akan menjadi seperti orang yang lahir kembali sebagai pemuja tua yang lebih khusyuk dan lebih kagum dibanding dengan kekagumannya di masa remaja dulu.

Mungkin ini keistimewaan kaum seniman yang dikagumi dua periode dalam siklus kehidupan para pemujanya. Hasil kerja keras Bung Arie, yang tertib dan teliti, untuk menampilkan kembali karya dan makna Lagu-lagu Abah, di bawah judul Mentari, lagu yang dianggap penting, mungkin menjadi sumber bacaan yang bukan hanya melengkapi tetapi juga mempersegar pengenalan kembali kita terhadap Abah. Bagus untuk dicatat di sini bahwa seniman seperti Abah memang layak memperoleh perhatian seperti itu. Dengan begitu, Bung Arie telah mengukir jasa bagi dirinya maupun bagi masyarakat luas. Ketekunannya melacak kembali dengan teliti sejarah terciptanya suatu lagu dari tangan Abah, merupakan jasa yang lebih dari layak dipuji. Ini ketekunan yang jelas bakal memiliki manfaat akademik bagi mereka yang merasa perlu mengkaji Abah dan segenap proses berkesenian yang ditempuh dalam hidupnya yang panjang dan penuh berkah.

Di dalam buku ini, literatur mengenai Abah dapat ditemukan dengan begitu mudah dan lengkap. Tapi ini belum apa-apa. Akan lebih bagus lagi, dan akan membuat jasanya menjadi lebih besar, kalau Bung Arie Juga gigih memasarkan buku ini ke sana kemari, dan mendekati para penikmat seni maupun para pemuja Abah. Zaman sekarang penulis tak bisa pasrah bongkokan sepenuhnya kepada penerbit. Harus ada kerja sama antara keduanya untuk memperoleh target tertinggi pemasaran ide-idenya di masyarakat. Ini catatan, kalau Bung Arie mau. Tapi sekali lagi, karya ini perlu diapresiasi oleh para penikmat maupun para peneliti dunia seni dan musik sebagai berkah yang mungkin tak terduga. Kaum awam pun akan menjadi lebih paham tentang Abah sesudah membaca buku ini.

Abah, sebagai maestro, kelihatannya harus disebut empu kehidupan–bukan hanya di dunia musik, lirik, dan lagu. Beliau disebut “Empu yang berkisah”–mungkin mendongeng–lewat lagu-lagunya sendiri dan mengajak dunia tersenyum. Tapi juga berpikir –mungkin berfilsafat secara mendasar–bahwa ternyata lagu bukanlah sekadar lagu, yang lahir dalam suasana hati yang dirundung rasa rindu, dengan kerinduan yang melambung-lambung ketika bulan tampak mengambang di langit biru yang memesona. Lagu–yang selalu ditulis dalam suatu konteks, agak khas, dan sebagian situasional–tak jarang dikawinkan dengan suatu isu lain dalam konteks politik-ekonomi yang lebih kuas. Dalam karya-karya Abah, isu lingkungan lebih dominan. Isu lingkungan itu juga isu kemanusiaan. Perjuangan menata kembali lingkungan berarti juga perjuangan membela dan menegakkan nilai kemanusiaan sekaligus membela manusia konkret, orang per orang seperti kita. Tak mengherankan kalau orang menyebut lagu-lagu Abah memiliki nuansa –bahkan jiwa– yang begitu hijau, bukan hijau Islam, bukan hijau tentara, dan bukan hijau tanda masih mentah.

Bagi Abah, hijau bukan warna yang memang sudah ada. Ini hijau dalam aspirasi, atau harapan mengenai apa yang harus ada. Hijaunya Abah itu hijau dalam gagasan yang masih sedang diperjuangkan. Dengan kata lain, baginya hijau merupakan warna kepeloporan. Empu ini berdendang dalam kidung-kidung merdu dan mungkin juga magis, untuk mengajak kita menata kembali lingkungan yang sudah lama terlanjur rusak. Semoga sampai di sini sudah sangat jelas, bahwa sekali lagi, lagu bukan sekadar lagu, yang berhenti berfungsi menghibur dan menyegarkan kembali jiwa pendengarnya. Di balik tiap lagu ada gagasan, atau ide-ide besar yang mengingatkan kita perlunya bertindak memperbaiki lingkungan. Lagu Abah mungkin setara dengan karya akademik para ahli lingkungan yang kesepian.

Di atas panggung, sesudah menyanyikan lagu Tajam Tak Bertepi Abah berkata, “Memotong satu pohon sama dengan mencekik anak-cucu sendiri. Sementara perjuangan memperbaiki lingkungan bukan perkara mudah”. Abah merenung-renung, dan bergumam lirih, “o, o, o, o, o, o, o, o…” Sebuah “o” panjang, bagian dari lagunya. Abah memang seorang pendongeng, tukang cerita, yang dalam jiwanya terdapat ungkapan rasa cinta kepada lingkungan dan manusia. Hal itu hanya bisa dirasakan secara simbolik di balik ekspresi liriknya yang kuat dan memukau. Maka tak mengherankan bila orang bisa hanyut terbawa arus lirik tadi. Orang mengira, Melati dari Jayagiri itu lagu cinta. Padahal sebenarnya lagu perjuangan memperbaiki lingkungan, tanpa kata perjuangan, tanpa kata perbaikan, tanpa kata lingkungan.

Romo Brower pernah berkata, waktu menciptakan Tanah Pasundan, Tuhan sedang tersenyum. Kisah lain –dalam buku Sulaiman:The World’s Greetest Kingdom History– Tuhan memberkati Nabi Daud dengan suara indah yang belum pernah dianugerahkan kepada umat lain sebelumnya dan tak bakal dianugerahkan kepada siapa pun sesudahnya.

Selain tersenyum dan memberkati Tanah Pasundan, mungkin Tuhan menganugerahkan sedikit suara merdu, sejenis kemerduan suara Nabi Daud yang diterima Abah saat menyendiri di puncak sebuah gunung, yang lebih dekat dengan langit daripada dengan bumi. Saat itu pelan-pelan Abah meningkat makin bijak, makin bijak.

Dalam lagu Tajam Tak Bertepi tadi Abah menjawab persoalan pelik dengan “o, o, o, o, o, o...” karena tak semua pertanyaan tersedia jawabnya. Mungkin ini kebiasaan kaum pujangga. Bob Dylan, penyair, penulis lirik dan lagu, sekaligus penyanyi, pemenang hadiah Nobel kesusastraan 2016, juga memiliki jawaban bijak, “The answer is blow in the wind”. Ebied G Ade, yang termuda, lebih suka bertanya kepada rumput yang bergoyang.

Abah, seorang empu yang berkisah –mendongeng– dalam lagu, tidak hanya mampu menyusun “o, o, o, o, o, o…” seperti disebut tadi. Ketika dirundung keraguan yang dalam, empu ini bersenandung, “Jawabnya tertiup di angin lalu”.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak