alexa snippet

Sulitnya Berdisiplin Lalu Lintas

Sulitnya Berdisiplin Lalu Lintas
Sejumlah pengendara sepeda motor melintas diatas trotoar jalan atau tempat pejalan kaki di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto
A+ A-
APARAT kepolisian di bawah Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya beberapa minggu terakhir giat menggalakkan penertiban kendaraan yang melintasi dan parkir di trotoar. Tingginya pelanggaran sepeda motor yang mengambil jalur pejalan kaki memang sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

Keberadaan trotoar yang diperuntukkan khusus pejalan kaki kini sudah tak nyaman karena harus berebut dengan pengendara motor. Pengemudi ojek online ikut andil penyumbang kepadatan kendaraan bermotor di trotoar, termasuk saat menunggu order panggilan penumpang.

Sehari-hari pemandangan trotoar tak ada beda dengan parkiran motor pinggir jalan plus sejumlah pedagang kaki lima yang ikut mangkal di kawasan sekitar. Bahkan, tak sedikit mobil yang ikut parkir di bahu jalan sehingga membuat kemacetan tak terhindarkan.
 
Kesadaran tertib berlalu lintas khususnya bagi pengendara motor di Ibu Kota dan sekitarnya memang masih rendah. Selain menerobos trotoar, melawan arus pada saat kemacetan dan menyeberang melalui jembatan penyeberangan orang (JPO) juga menjadi perilaku yang dianggap wajar.

Bila pemotor diingatkan untuk keluar dari bahu jalan, kebanyakan dari mereka justru marah dan merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Masih hangat di ingatan kita rekaman video pengendara motor yang mengamuk saat Koalisi Pejalan Kaki melakukan aksi damai di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat pertengahan Juli lalu.

Saat itu dua orang pengendara motor berteriak-teriak kepada peserta aksi hanya karena menolak untuk keluar dari trotoar dan kembali ke jalan raya. Pengendara motor yang mengaku tukang ojek itu ngotot  menggunakan trotoar hanya untuk menghindari kemacetan dan mengejar setoran. Trotoar yang cukup lebar untuk pejalan kaki menjadi satu-satunya alternatif mencapai tujuan lebih cepat bagi pengemudi ojek tersebut.

Belum surut kehebohan yang terjadi di Kebon Sirih, kejadian yang menggelikan kembali terjadi di Jalan Layang Non Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang (Casablanca). Ratusan pengendara motor menolak untuk membaca rambu lalu lintas yang terpasang di ujung JLNT tentang larangan pengendara motor melintasi jalan itu.

Rambu larangan untuk sepeda motor jelas terpampang, namun tetap saja pengendara motor melanggar aturan. Tak lama setelah operasi lalu lintas dilakukan, ratusan pengemudi ojek online memblok Jalan Casablanca sebagai bentuk protes.

Sungguh sangat memprihatinkan. Aksi penolakan terhadap penertiban lalu lintas yang dilakukan para penegak hukum mendapatkan perlawanan. Padahal, pemotor seharusnya menyadari untuk apa larangan itu dibuat. Tingginya JLNT juga mengakibatkan angin kencang dan rawan bagi pengendara motor.

Selain motor, tak sedikit pula mobil yang parkir sembarangan di bahu jalan. Sebuah video yang direkam pada Juni lalu memperlihatkan seorang pria sedang mencaci maki petugas Dinas Perhubungan karena mobil miliknya diderek oleh petugas.

Video yang menghebohkan media sosial itu menjadi gambaran bahwa masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya mematuhi rambu lalu lintas, terutama untuk tidak memanfaatkan bahu jalan sebagai tempat parkir pribadi.

Terlepas dari semua kejadian itu, aparat kepolisian harus tetap tegas terhadap pelaku berkendara yang tak tertib aturan. Kampanye tertib berlalu lintas harus terus digalakkan antara lain dengan memasang rambu-rambu di sepanjang bahu jalan, serta memanfaatkan sosialisasi di media sosial.

Penerapan Undang-Undang Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan harus terus disosialisasikan oleh aparat kepolisian agar pengendara yang ditertibkan tidak merasa dijebak. Dukungan tertib berlalu lintas memang tak bisa dilakukan secara sepihak hanya oleh aparat.

Butuh kesadaran masyarakat dalam penyempurnaannya. Untuk itu, kampanye yang dilakukan oleh sejumlah aktivis trotoar beberapa waktu lalu harus disambut baik dan mendapatkan dukungan dari semua kalangan. Karena hanya dengan kesadaran masyarakat, tata tertib bisa ditegakkan di jalan sehingga semua orang nyaman dalam berkendara, termasuk para pejalan kaki bisa menikmati jalurnya di trotoar.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top