Daftar Tokoh dan Pemimpin Pemberontakan DI/TII dari Aceh hingga Sulawesi
Rabu, 18 Oktober 2023 - 12:28 WIB
loading...
A
A
A
Setelah Perjanjian Roem Royen pada pertengahan 1949, DI/TII memproklamasikan NII. Kemudian, pada 8 Desember 1950, DI/TII dinyatakan organisasi terlarang dan Kodam VI Siliwangi berhasil menangkap dan menghukum mati pemimpinnya, Kartosuwirjo.
Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dikomandoi oleh Amir Fatah dan Mahfu'dz Abdurachman, juga dikenal sebagai Kyai Somalangu. Amir Fatah memegang peran sebagai pimpinan laskar Hizbullah di wilayah Tulangan, Sidoarjo, dan Mojokerto.
Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dipicu oleh pengaruh dari DI/TII di Jawa Barat, terjadi di wilayah Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Penumpasan dilakukan melalui pasukan khusus bernama Banteng Raider, berhasil mengalahkan pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah.
Selanjutnya, pemberontakan DI/TII di wilayah Aceh dipimpin oleh seorang ulama yang cukup berpengaruh di tanah Aceh, beliau bernama Tengku Muhammad Daud Beureueh.
Pada tahun 1950, penurunan status Aceh menjadi karesidenan dan rencana penggabungan dengan Sumatera Utara memicu pemberontakan. Daud Beureueh menyatakan Aceh sebagai bagian dari DI/TII pada 21 September 1953 sebagai respons terhadap tindakan tersebut.
Pemerintah melakukan operasi militer dan perundingan untuk mengatasi pemberontakan DI/TII di Aceh. Kesepakatan dicapai pada tahun 1962, di mana Aceh menjadi provinsi tersendiri sebagai daerah istimewa setelah perundingan antara RI dan Aceh.
2. Jawa Tengah
Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dikomandoi oleh Amir Fatah dan Mahfu'dz Abdurachman, juga dikenal sebagai Kyai Somalangu. Amir Fatah memegang peran sebagai pimpinan laskar Hizbullah di wilayah Tulangan, Sidoarjo, dan Mojokerto.
Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dipicu oleh pengaruh dari DI/TII di Jawa Barat, terjadi di wilayah Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Penumpasan dilakukan melalui pasukan khusus bernama Banteng Raider, berhasil mengalahkan pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah.
3. Aceh
Selanjutnya, pemberontakan DI/TII di wilayah Aceh dipimpin oleh seorang ulama yang cukup berpengaruh di tanah Aceh, beliau bernama Tengku Muhammad Daud Beureueh.
Pada tahun 1950, penurunan status Aceh menjadi karesidenan dan rencana penggabungan dengan Sumatera Utara memicu pemberontakan. Daud Beureueh menyatakan Aceh sebagai bagian dari DI/TII pada 21 September 1953 sebagai respons terhadap tindakan tersebut.
Pemerintah melakukan operasi militer dan perundingan untuk mengatasi pemberontakan DI/TII di Aceh. Kesepakatan dicapai pada tahun 1962, di mana Aceh menjadi provinsi tersendiri sebagai daerah istimewa setelah perundingan antara RI dan Aceh.
Lihat Juga :