alexa snippet

Menuju Keluarga Bangsa Mulia

Menuju Keluarga Bangsa Mulia
Muhbib Abdul Wahab. Dokumen/SINDOnews
A+ A-
Muhbib Abdul Wahab
Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ

Tanggal 15 Juli diperingati sebagai hari keluarga. Memaknai hari keluarga dalam konteks kebangsaan dan keumatan sangat penting, terutama untuk merawat kebinekaan, persatuan, dan kerukunan keluarga bangsa.

Di tengah merebaknya tindak terorisme, ancaman disintegrasi bangsa  melalui aneka gerakan radikal, liberal, komunisme, neokolonialisme, dan sebagainya, mengevaluasi kembali fungsi dan peran keluarga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara  terasa sangat urgen.
 
Pertama, keluarga adalah sakaguru dan pilar utama kehidupan masyarakat dan bang­sa. Tanpa keluarga yang berkomitmen untuk bersatu nusa, satu bangsa, satu bahasa, dan satu dasar negara (Pancasila), mustahil keluarga bangsa Indonesia yang besar ini dapat dipertahankan.

Kepentingan masing-masing warga dan keluarga boleh jadi berbeda-beda, namun spirit nasionalisme sebagai keluarga bangsa harus bisa mengenyahkan segala bentuk egoisme sektoral dan kontra integrasi bangsa.

Kedua, keluarga merupakan basis sekaligus sasaran pembangunan nasional yang tidak boleh diabaikan. Mengabaikan pembangunan keluarga dari segi mental spiritual, pendidikan karakter, sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan sebagainya sama artinya mengerdilkan makna keluarga bangsa.

Secara sosiologis, keluarga sejahtera, bahagia, dan mulia merupakan fondasi bangsa sejahtera, adil makmur, dan berperadaban maju.
 
Ketiga, keluarga besar Indonesia sejatinya bersaudara, meski pun berbeda suku, ras, agama, bahasa, budaya, latar belakang sosial-ekonomi, politik, dan sebagainya.

Persaudaraan keluarga bangsa tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pragmatis dan politis yang cenderung egoistis, mendahulukan kepentingan partai politik tertentu dan mengabaikan kepentingan dan kebersaudaraan nasional.

Keluarga bangsa Indonesia dewasa ini banyak dihadapkan pada berbagai ujian. Ada ujian sosial ekonomi dengan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, terutama tarif dasar listrik yang dirasakan oleh mayoritas keluarga bangsa sangat mencekik.

Ada pula ujian sosial politik dan moral, dengan ketidakjelasan dugaan kasus korupsi e-KTP, Rumah Sakit Sumber Waras, reklamasi Teluk Jakarta, Bank Century, BLBI, dan sebagainya.

Ada ujian nasionalisme berupa menguatnya paham radikal dan antiPancasila, karena mungkin pe­merintah belum mampu me­nyejahterakan dan mewujudkan rasa keadilan hukum dan sosial di antara keluarga bangsa.

Selain itu, keluarga bangsa juga dihadapkan pada sikap opo­rtunisme sebagian warga bang­sa yang selalu mendahulukan klaim sebagai kelompok yang paling toleran, paling bineka, paling NKRI, dan paling Pancasilais, namun perilaku dan tindakan kelompok ini sering tidak toleran, antikebinekaan, dan tidak Pancasilais terhadap sesama warga bangsa.

Kelompok-kelompok oportunis yang "men­dompleng" atas nama ideologi Pancasila sejatinya hanyalah menggerogoti kesatuan dan kekayaan bangsa, karena hanya berorientasi untuk mendapat "jatah kue" kekuasaan atas nama "keluarga kelompoknya" yang diklaim mayoritas dan berpengaruh dalam menentu­kan masa depan bangsa.
 
Keluarga bangsa ini sudah mengalami berbagai masa yang sulit dalam menapaki jalan masa depan yang didambakan. Dari rezim Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga saat ini, keluarga bangsa ini belum sepenuhnya menunjuk­kan peran dan fungsinya yang optimal.

Sebagai ujung tombak dalam menjaga NKRI, keluarga bangsa perlu diberdayakan secara serius. Bagaimana misalnya mewujudkan keluarga sejahtera, mandiri, dan mulia berbasis RT-RW di selu­ruh Indo­ne­sia? Bagai­­mana mengoptimalkan peran serta keluarga dalam menanggulangi terorisme, pelanggaran amoral, kejahatan sosial, dan sebagainya?
 
Dalam waktu dekat, keluarga bangsa ini juga akan menghadapi bonus demografi, ledakan jumlah penduduk, akibat kurang terkendalinya angka kelahiran dari pasangan usia subur.
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top