alexa snippet

Tantangan Kepemimpinan Anies-Sandi

Tantangan Kepemimpinan Anies-Sandi
Euforia para pendukung Anies-Sandi di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Foto/Isra Triansyah/SINDOnews
A+ A-
Ubedilah Badrun
Analis Politik UNJ dan Direktur Puspol Indonesia

PASCAJADWAL
pemungutan suara usai pada pukul 13.00 WIB Rabu (19/4/2017) lalu, satu jam kemudian sejumlah lembaga survei langsung mengumumkan hasil quick count-nya masing-masing di sejumlah media televisi dan sejumlah media online.

Seketika itu juga publik disuguhkan dengan angka-angka yang fluktuatif dan pada sebagian masyarakat cukup mendebarkan, bahkan sudah mulai ada yang sedikit euforia merayakan kemenangan.

Masyarakat perlu diberikan pandangan jernih bahwa quick count adalah salah satu instrumen untuk mengetahui hasil pemilu secara cepat dengan mengambil sampel di tempat pemungutan suara (TPS).

Oleh karena itu, quick count  bukan hasil sebenarnya, ia hanya berasal dari ratusan sampel TPS dari ribuan TPS. Sering kali lembaga survei di Jakarta mengambil sampel antara 400 sampai 600-an TPS dari 13.000 lebih TPS di Jakarta.

Pengumuman resmi hasil pilkada adalah hasil perhitungan manual KPU DKI. Quick count bisa mendekati hasil sebenarnya jika teknik samplingnya memegang teguh prinsip-prinsip metodologi ilmiah. Misalnya mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya mempertimbangkan (1) karakteristik keragaman pemilih di TPS, (2) banyaknya jumlah TPS yang diambil sebagai sampel, dan (3) rendahnya margin of error.

Berdasarkan hasil quick count  dari sembilan lembaga survei (LSI, Indikator, SMRC, Indobarometer, Polmark, Median Center, Litbang Kompas, Charta Politica dan Voxpol) rata-rata perolehan suara masing-masing sebagai berikut: Ahok-Djarot 44,70%, Anies-Sandi 55,30%. Angka ini  masih akan terus berubah secara fluktuatif sampai data sampel diterima pusat data 100%.

Dengan mencermati perkembangan data quick count  tersebut, maka kemungkinan besar Pilkada DKI Jakarta 2017 dimenangkan Anies-Sandi. Kesimpulan itu benar jika lembaga survei benar-benar memegang teguh prinsip-prinsip metode ilmiah. Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang menyebabkan mayoritas warga Jakarta memilih Anies-Sandi? Dengan menggunakan perspektif politik, minimal ada tiga faktor utama yang menyebabkan Anies-Sandi menang.

Tiga Faktor Kemenangan

Pertama, faktor mesin politik yang bekerja militan. Dalam mesin politik Anies-Sandi ini, ada tiga kelompok yang bekerja militan, yaitu kelompok partai (PKS, Gerindra, PAN, Perindo, Idaman), kelompok relawan terorganisasi yang bekerja di darat maupun udara (cyber), dan kelompok simpatisan yang tak terorganisasi yang bekerja militan dan menyebar di tengah-tengah masyarakat.

Ini secara politik empirik menjadi faktor utama kemenangan pasangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Anies-Sandi patut berterima kasih pada faktor utama ini.
Kedua, faktor performa Anies-Sandi yang berhasil membentuk opini publik bahwa mereka calon gubernur santun dan cerdas.

Santun dalam berkomunikasi dan cerdas dalam menyusun program. Program Oke Oce adalah salah satu program yang menunjukkan kecerdasan untuk atasi solusi kesenjangan sosial ekonomi warga Jakarta. Reputasi keduanya telah memperkuat opini publik tersebut. Sebuah kesan penting yang membedakan secara ekstrem dengan lawan politiknya (Ahok-Djarot) yang terkesan dominan menampilkan sikap arogan dan kasar dalam berkomunikasi.

Secara sosiologis warga Jakarta sesungguhnya menyukai dua tipe tersebut, tetapi persentase yang menyukai kesantunan jauh lebih banyak. Anies-Sandi berhasil menyentuh hati dan nalar mayoritas warga Jakarta.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top